Meski demikian, Sinovac mengklaim pemberian dosis penguat atau booster memberi perlindungan yang lebih baik dalam menghadapi COVID-19 varian Omicron (B.1.1.529).
- Elvariza Opita
- Jumat, 17 Desember 2021 - 15:56 WIB
WowKeren - COVID-19 varian Omicron terus menjadi sorotan dunia karena tingginya mutasi yang dijumpai di virus tersebut. Tingginya mutasi dikhawatirkan menyebabkan, salah satunya, virus Corona menjadi lebih mudah menghindari sistem kekebalan tubuh, termasuk yang dirangsang oleh vaksin.
Bahkan menurut studi, varian Omicron bisa dengan mudah menghindari vaksin COVID-19 yang dikembangkan dari virus inaktif yang dikembangkan Sinopharm. Hasil ini didapat setelah peneliti dari Universitas Washington dan perusahaan terapi antibodi Swiss Humabs BioMed menginvestigasi kemampuan varian Omicron menghindari antibodi, baik yang disebabkan oleh infeksi sebelumnya atau vaksin.
Hasilnya, jumlah antibodi yang ditunjukkan dari sampel penerima vaksin Sinopharm berkurang drastis ketika melawan Omicron bila dibandingkan dengan varian-varian COVID-19 sebelumnya. Hanya 3 dari 13 sampel yang antibodinya masih bisa dideteksi untuk melawan varian Omicron, atau dikenal sebagai kemampuan "menetralisir".
Meski demikian, Asisten Profesor di Program Studi Biokimia Universitas Washington, Dr David Veesler, menegaskan bahwa performa antibodi dalam melawan varian Omicron sangat ditentukan oleh kualitas tubuh individu masing-masing. Namun hasil studi ini, ditegaskan Veesler, tidak menunjukkan efikasi vaksin secara penuh terhadap Omicron.
"Faktor-faktor lain seperti sel T (sel dari sistem imun) berperan penting dalam melindungi kita dari patogen, terutama apabila antibodi penetralisirnya tidak ada," kata Vessler. "Lebih akurat bila (hasil penelitian menunjukkan) kami tidak bisa mendeteksi aktivitas penetralisir terhadap Omicron pada sampel plasma darah penerima vaksin Sinopharm. Namun mengevaluasi efikasi vaksin di populasi membutuhkan studi epidemiologi."
Bukan hanya Sinopharm, sebelumnya studi Hong Kong juga mengungkap bahwa dua dosis vaksin Sinovac pun belum cukup untuk melindungi diri dari varian Omicron. Dari 25 orang yang telah divaksin dengan Sinovac, tidak ada satupun yang menunjukkan aktivitas antibodi yang cukup dalam melawan varian Omicron, demikian hasil studi yang dirilis pada 14 Desember 2021.
Hasil penelitian ini langsung ditanggapi oleh Sinovac. Menurutnya, 35 persen dari orang yang sudah menerima dosis penuh vaksin Sinovac menunjukkan antibodi penetralisir terhadap varian Omicron, demikian dilaporkan Global Times.
Studi ini dilakukan terhadap 20 orang, di mana 7 orang di antaranya menunjukkan antibodi yang cukup melawan Omicron. Namun kemampuan ini bisa ditingkatkan dengan pemberian dosis penguat atau booster, dengan tingkat kemanjuran sampai 94 persen.
(wk/elva)