Seribu lebih pasien COVID-19 harus masuk ke rumah sakit dalam kurun waktu 24 jam, namun situasi ini tidak membuat pemerintah Inggris melakukan pembatasan selama Natal dan Tahun Baru.
- Elvariza Opita
- Selasa, 28 Desember 2021 - 11:19 WIB
WowKeren - Setelah Prancis perdana melaporkan 100 ribu kasus COVID-19 dalam sehari, krisis serupa juga dijumpai di Inggris. Bahkan kasus baru COVID-19 di Inggris mencapai 113.628 tepat saat hari Natal (25/12).
Bukan hanya itu, sebanyak 1.281 pasien COVID-19 harus dilarikan ke rumah sakit hanya dalam kurun waktu 24 jam. Angka ini praktis menjadi yang tertinggi sejak pertengahan Februari 2021, dengan rekor terburuk tercatat pada 12 Januari 2021 dengan 4.134 pasien COVID-19 masuk rumah sakit.
Angka kasus positif COVID-19 yang tidak kalah tinggi tercatat pada hari-hari setelahnya. Seperti pada Minggu (26/12), jumlah kasus COVID-19 harian kombinasi di Inggris dan Wales sebanyak 108.893. Sementara pada Senin (27/12) angkanya "sedikit berkurang" meski masih begitu tinggi, yakni sebanyak 98.515 kasus baru.
Namun para pakar kesehatan Inggris meyakini bahwa data yang ditunjukkan bukan menampilkan situasi di lapangan. "Data tidak dapat diandalkan selama periode perayaan karena pengujian dan pola masuk rumah sakit berubah. Ini akan mempersulit interpretasi tren yang terlihat selama beberapa hari ke depan," ungkap Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Kedaruratan (SAGE), dikutip dari The Guardian pada Selasa (28/12).
Namun semua krisis yang terjadi tidak membuat pemerintah Inggris mengambil langkah membatasi kegiatan masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru. Meski demikian, kabinet Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mendesak masyarakat untuk tetap waspada terutama dengan potensi kerumunan saat perayaan Tahun Baru.
"Kami tidak akan mengambil pembatasan. (Namun) tentu saja masyarakat harus tetap waspada karena kita mendekati perayaan Tahun Baru dan mengambil rapid test kalau memungkinkan. Kalau bisa merayakannya di ruang terbuka, atau di dalam ruangan dengan ventilasi yang baik," ujar Menteri Kesehatan, Sajid Javid.
Sedangkan Johnson memastikan pemerintah akan terus memantau perkembangan varian Omicron. "Kami akan terus memantau data dengan hati-hati, tetapi tidak akan ada pembatasan di Inggris sampai sebelum Tahun Baru," tegas Johnson melalui cuitannya.
"Tetapi saya mendesak semua orang untuk terus waspada, apalagi karena kenaikan kasus Omicron. Yang terpenting, saya juga mendesak semua orang untuk segera mendapat suntikan vaksin COVID-19 dosis pertama, kedua, dan penguat (booster) tanpa keterlambatan jadwal demi melindungi Anda dan orang-orang terkasih," pungkas Johnson.
(wk/elva)