Moderator Konten Tuntut TikTok Terkait Tuntutan Kerja yang Membuatnya Alami Gangguan Mental
pixabay.com/antonbe
Dunia

Frazier mengklaim TikTok gagal menerapkan pengamanan teknis untuk moderator. Salah satunya untuk mengaburkan atau mengurangi resolusi video yang harus ditonton oleh moderator.

WowKeren - Seorang moderator konten menggugat raksasa media sosial TikTok terkait isu kesehatan mental pekerja. Raksasa media sosial diduga gagal mengambil tindakan untuk melindungi kesehatan mental pekerjanya.

Menurut news.com.au, dalam gugatan class action yang diajukan, Candie Frazier yang bekerja untuk perusahaan pihak ketiga, mengatakan TikTok tidak mengikuti standar industri dalam hal melindungi moderator. Seorang moderator biasanya bekerja dalam shift 12 jam dengan satu jam istirahat untuk makan siang, mereka juga mendapatkan dua kali istirahat 15 menit.

Frazier mengklaim TikTok gagal menerapkan pengamanan teknis untuk moderator. Salah satunya untuk mengaburkan atau mengurangi resolusi video yang harus ditonton oleh moderator. Dalam gugatan itu, Frazier mengklaim dirinya dipaksa untuk menonton tindakan bejat sebagai bagian dari pekerjaannya.

Sejumlah tindakan mengerikan termasuk ketika ia harus menyaksikan video seorang pria memakan kepala tikus, penembakan di sekolah dan mayat anak-anak, kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak, dan kejadian-kejadian lainnya yang sangat mengerikan.


Frazier juga menggugat perusahaan induk TikTok, ByteDance. Dokumen yang diajukan di pengadilan Distrik Amerika Serikat juga mengungkapkan penghasilan besar perusahaan induk.

"Pada tahun fiskal 2020, ByteDance menghasilkan pendapatan iklan sekitar 34,3 miliar dolar AS. Pada tahun 2019, angka tersebut masih sebesar 17 miliar, dan pada tahun 2018 sebesar 7,4 miliar dolar," bunyi gugatan itu. "ByteDance mencapai ini sebagian karena popularitas aplikasi TikTok-nya."

Dokumen tersebut juga mengatakan karena pemantauan ketat terhadap aktivitas moderator, ada peningkatan tekanan pada staf untuk menonton video sebanyak mungkin. TikTok bahkan mengimplementasikan perangkat lunak yang melacak moderator secara online dan melalui kamera.

Moderator mendapatkan tekanan kuat serta konten yang harus mereka tonton membuat mereka lebih mungkin menderita gangguan stres pasca-trauma, gugat Frazier. Karena pekerjaannya, Frazier mengatakan dia telah mengalami serangan panik dan depresi serta gejala yang berhubungan dengan kecemasan dan gangguan stres pasca-trauma. Untuk itu, ia ingin agar TikTok membayar kerugian psikologis yang ditimbulkan dari beban kerja tersebut, baik bagi dirinya maupun pekerja lainnya.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait