Pada pekan lalu, WHO menyebut jumlah kasus COVID-19 secara global mengalami kenaikan 11 persen akibat varian Omicron. WHO menilai tingkat penyebaran Omicron 2 kali lebih cepat per 2-3 hari dibanding Delta.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Rabu, 29 Desember 2021 - 13:08 WIB
WowKeren - Seperti yang diketahui, negara di dunia saat ini tengah menghadapi ancaman varian baru COVID-19 yakni Omicron. Sebelumnya, banyak pihak yang menilai bahwa varian Omicron ini memiliki tingkat penyebaran yang lebih cepat dibanding Delta.
Kini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan sekaligus mengingatkan bahwa risiko yang ditimbulkan oleh Omicron masih sangat tinggi. Hal ini disampaikan berdasarkan data pada pekan lalu yang menunjukkan jumlah kasus COVID-19 melonjak 11 persen secara global.
Melansir Al Jazeera, WHO menuturkan bahwa Omicron berada di balik lonjakan virus yang cepat di banyak negara, termasuk di mana telah melampaui varian Delta yang sebelumnya dominan. Hal ini disampaikan WHO dalam pembaruan epidemiologi mingguan COVID-19.
"Bukti yang konsisten menunjukkan bahwa varian Omicron memiliki keunggulan pertumbuhan dibandingkan varian Delta dengan waktu dua kali lipat dari dua hingga tiga hari dan peningkatan pesat dalam kejadian kasus terlihat di sejumlah negara," tutur WHO dalam keterangan, Rabu (29/12).
Negara yang termasuk mengalami lonjakan sangat cepat atas kasus Omicron dan telah menjadi varian yang dominan menurut WHO adalah Inggris dan Amerika Serikat. Sementara itu, beberapa negara di Eropa seperti Prancis, Inggris, Italia, Yunani, dan Portugal semuanya diketahui mencapai rekor infeksi harian. Bahkan Prancis melaporkan hampir 180 ribu kasus dalam periode 24 jam per Selasa (28/12).
Masih melansir Al Jazeera adapun negara-negara lain yang juga mencatatkan kenaikan kasus COVID-19 adalah Filipina. Kemudian di Australia, wabah Omicron disebut telah mengganggu klinik pengujian saat kasus telah mencapai rekor.
Pada Rabu (29/12), infeksi COVID-19 di Australia melonjak ke rekor baru akibat dari penyebaran cepat varian Omicron, dan fasilitas pengujian yang kewalahan di negara bagian terpadat. Saat ini, Australia disebut tengah berada di dalam cengkeraman wabah COVID-19 yang didominasi oleh Omicron.
Kemudian, California disebut menjadi negara bagian pertama yang jumlah kasus COVID-19 mencapai 5 juta kasus, dan didominasi oleh varian Omicron. Angka ini berdasarkan data negara bagian tersebut per Selasa (28/12).
(wk/tiar)