Seolah tak memperdulikan keadaan Myanmar saat ini yang masih berada di tengah ancaman kudeta, sebagian besar perusahaan Jepang akan tetap berinvestasi. Selain itu, kondisi COVID-19 di Myanmar juga belum membaik.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Senin, 10 Januari 2022 - 12:46 WIB
WowKeren - Seperti yang diketahui, kudeta di Myanmar yang telah berlangsung sejak Februari 2021 lalu, hingga kini belum juga berakhir. Kondisi di Myanmar pun semakin mencekam.
Meski demikian, tampaknya kondisi tersebut tidak menghalangi sekitar 70 persen perusahaan Jepang untuk berinvestasi di Myanmar. Berdasarkan laporan Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang, perusahaan tersebut diketahui akan mempertahankan atau memperluas operasi mereka di Myanmar dalam satu atau dua tahun meski ekonominya terpukul parah akibat kudeta militer dan pandemi COVID-19.
Melansir Kyodo News, dalam laporan tersebut juga mengutip survei JETRO yang mengatakan bahwa 52,3 persen akan mempertahankan tingkat operasi saat ini di Myanmar, dan 13,5 persen akan memperluasnya, sedangkan 27,5 persen akan mengurangi bisnis mereka di negara tersebut, serta 6,7 persen lainnya akan menarik diri dari investasi atau memindahkan operasi mereka ke negara ketiga.
Sementara itu, berdasarkan laporan 9 Desember 2021 lalu, menunjukkan jika lingkungan bisnis terus memburuk di Myanmar, maka akan lebih banyak investor Jepang yang mungkin tidak punya pilihan selain mengurangi operasi mereka atau menarik diri.
Dalam peringatan pertama kudeta 1 Februari mendekat pada 31 Desember 2021 lalu, PBBB telah mengatakan bahwa situasi politik dan keamanan di Myanmar diperkirakan akan tetap tidak stabil pada tahun 2022. Selain itu, berpotensi mengalami gelombang keempat COVID-19, lantaran tingkat vaksinasinya relatif rendah dan munculnya varian baru dianggap sebagai risiko yang terus meningkat.
Di sisi lain, pada Oktober lalu, Dana Moneter Internasional juga memperkirakan bahwa ekonomi Myanmar akan menyusut 17,9 persen kekalahan pada tahun 2021. Hal ini menandakan mengalami penurunan 9,0 poin persentase dari perkiraan lembaga yang berbasis di Washington pada April.
Masih melansir Kyodo News, IMF juga memproyeksikan bahwa produk domestik bruto Myanmar akan berkontraksi 0,1 persen pada 2022. Lalu menurut survei JETRO, 63,6 persen responden memperkirakan bahwa laba operasional 2021 mereka telah turun dari tahun sebelumnya. Sedangkan 27,8 persen memperkirakan mereka akan mencatat tingkat laba yang sama.
(wk/tiar)