Presiden Armenia Mengundurkan Diri Karena Merasa Kurang Berpengaruh
EPA/Koca Sulejmanovic
Dunia

Pada Minggu (23/1) Presiden Armenia Armen Sarkissian mengatakan dalam sebuah pernyataan di situs resminya bahwa keputusan yang diambilnya itu telah melalui pertimbangan rasional.

WowKeren - Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari Presiden Armenia Armen Sarkissian. Baru-baru ini ia telah mengumumkan pengunduran dirinya. Adapun alasannya berkaitan dengan ketidakmampuan kantornya untuk mempengaruhi kebijakan selama masa krisis nasional.

Pada Minggu (23/1), Sarkissian mengatakan dalam sebuah pernyataan di situs resminya bahwa keputusan yang diambilnya itu telah melalui pertimbangan rasional. Ia mengakui bahwa pemerintahannya tidak memiliki hal-hal yang mendukung untuk memberikan pengaruh.

"Ini bukan keputusan yang didorong secara emosional dan ini berasal dari logika tertentu," kata Sarkissian. "Presiden tidak memiliki alat yang diperlukan untuk mempengaruhi proses penting kebijakan luar negeri dan dalam negeri di masa-masa sulit bagi rakyat dan negara."

Sarkissian menjabat sebagai presiden di negara itu sejak tahun 2018 lalu. Ia telah menjadi pusat krisis politik domestik tahun lalu yang meletus setelah perang antara Armenia dan rival lama Azerbaijan untuk menguasai wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan.


Tak hanya itu, ia juga terlibat dalam perselisihan dengan Perdana Menteri Nikol Pashinyan tahun lalu atas sejumlah masalah. Salah satunya termasuk pemecatan kepala angkatan bersenjata setelah perang dan di tengah protes yang membawa ribuan orang turun ke jalanan.

Melalui langkahnya itu, ia berharap bahwa presiden yang menjabat berikutnya setelah dirinya lengser, bisa menghadirkan perubahan. Dengan begitu, pemerintahan dapat berjalan di lingkungan yang lebih kondusif.

"Saya berharap pada akhirnya perubahan konstitusi dapat dilaksanakan," lanjutnya. "Dan presiden dan pemerintahan presiden berikutnya dapat beroperasi dalam lingkungan yang lebih seimbang."

Sebagaimana diketahui, Armenia menjadi republik parlementer setelah referendum pada Desember 2015 lalu. Kekuasaan presiden secara signifikan dibatasi di negara itu, yang mana hal tersebut berarti bahwa peran perdana menteri dipandang lebih kuat. Kendati demikian, penyataan Sarkissian tidak merujuk langsung pada masalah atau peristiwa tertentu.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait