Pernyataan Presiden IOC Soal Olimpiade Beijing Wujudkan Cita-Cita Perdamaian Tuai Kritikan
AP Photo/David J. Phillip
Dunia

Pembukaan Olimpiade Beijing 2022 yang berlangsung pada Jumat (4/2), juga dihadiri oleh Presiden IOC. Presiden IOC pun menyampaikan sejumlah hal, salah satunya soal cita-cita Olimpiade.

WowKeren - Olimpiade Beijing 2022 telah resmi dibuka melalui Upacara Pembukaan yang berlangsung pada Jumat (4/2). Seperti yang diketahui, gelaran Olimpiade Beijing ini menuai banyak kontroversi mulai dari aksi protes lantaran digelar di tengah pandemi COVID-19, hingga aksi boikot sejumlah negara atas isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Sementara itu, pada Upacara Pembukaan Olimpiade Beijing 2022 itu juga tampak dihadiri oleh Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach. Dalam acara tersebut, Bach berbicara mengenai cita-cita Olimpiade yang telah menyatukan para atlet dari seluruh dunia.

"Di dunia kita yang rapuh, di mana perpecahan, konflik, dan ketidakpercayaan sedang meningkat, kami menunjukkan kepada dunia bahwa adalah mungkin untuk menjadi saingan yang sengit sementara pada saat yang sama hidup bersama dengan damai dan penuh hormat," tutur Bach dalam Upacara Pembukaan. "Misi Olimpiade jelas, selalu membangun jembatan, tidak pernah mendirikan tembok."

Pernyataan Bach yang menyebut Olimpiade Beijing telah mewujudkan cita-cita Olimpiade atas perdamaian itu lantas memicu kritikan terhadapnya dan IOC. Adapun kritikan tersebut mengatakan bahwa cita-cita itu tidak masuk akal, dan pembicaraan tentang rasa hormat serta pembangunan jembatan dibayangi oleh pejabat Olimpiade yang mendekati beberapa penguasa otoriter paling kuat di dunia.


Menurut kritikan tersebut, bentuk condong IOC terhadap negara otoriter itu dapat dilihat dari pemilihan negara untuk menyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin yakni Beijing, di tengah ramai isu yang menyebut Tiongkok terlibat pelanggaran HAM yang meluas.

Melansir AP News, para kritikus tersebut mengatakan pihak IOC mengetahui bahwa Beijing telah mengunci ratusan ribu minoritas Muslim Uyghur, serta menangkap banyak orang yang berani menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

"Kegagalan IOC untuk secara terbuka menghadapi pelanggaran HAM serius Beijing membuat komitmen dan klaimnya sendiri bahwa Olimpiade adalah 'kekuatan untuk kebaikan'," tutur salah satu kritikus, Sophie Richardson selaku Direktur China di Human Rights Watch, sebelum Olimpiade dibuka, dikutip Sabtu (5/2).

Selain itu, beberapa aktivis hak bahkan menyebut Olimpiade Beijing itu sebagai "Permainan Genosida" dan para pemimpin dari serangkaian negara demokratis, termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris Raya, Australia, dan Kanada, yang memutuskan untuk menghindari Olimpiade tersebut atas alasan pelanggaran HAM ataupun pembatasan COVID-19 yang meluas.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait