Rusia telah meluncurkan operasi militer ke Ukraina sejak Kamis (24/2) lalu. Lantas, apa inti dari konflik yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh tahun ini? Simak kilas baliknya di bawah ini!
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 26 Februari 2022 - 17:18 WIB
WowKeren - Dunia kini tengah menyoroti konflik di Ukraina yang memuncak sejak Rusia melancarkan operasi militer pada Kamis (24/2) lalu. Lantas, apa inti dari konflik yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh tahun ini? Simak kilas baliknya di bawah ini!
Seperti diketahui, Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali mengklaim bahwa Rusia dan Ukraina adalah "satu" dan merupakan bagian dari "peradaban Rusia" yang turut mencakup Belarusia. Namun Ukraina menolak klaim Rusia tersebut.
Ukraina sendiri telah mengalami dua kali revolusi, yakni pada tahun 2005 dan tahun 2014. Kedua momen revolusi Ukraina itu menolak supremasi Rusia dan mencari jalan untuk bergabung dengan Uni Eropa dan NATO.
Protes berbulan-bulan dalam revolusi tahun 2014 berhasil menggulingkan Presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych. Putin kemudian menggunakan kekosongan kekuasaan tersebut untuk mencaplok Krimea dan mendukung kelompok separatis di wilayah Donetsk dan Luhansk, atau yang secara kolektif dikenal sebagai Donbas.
Kelompok separatis itu dilaporkan membentuk "Republik Rakyat" yang otoriter dan lemah secara ekonomi. Mereka disebut menjalankan lusinan kamp konsentrasi dimana para pembangkan disiksa dan dieksekusi.
Namun aksi para separatis tersebut justru mendinginkan sentimen pro-Rusia di Ukraina. "Secara paradoks, Rusia membantu memperkuat rasa kebangsaan Ukraina yang menurut beberapa politisi Rusia tidak benar-benar ada," ungkap penasihat kebijakan senior di Komite Helsinki Norwegia, Ivar Dale, kepada Al Jazeera.
Konflik tahun 2014 tersebut telah menewaskan lebih dari 13 ribu orang dan membuat jutaan orang terpaksa mengungsi. Kala itu, militer Ukraina kekurangan perlengkapan sedangkan para separatis memiliki "konsultan" dan akses persenjataan Rusia. Namun kini, Ukraina sudah jauh lebih kuat secara militer dan moral, ditambah ada ribuan relawan yang sudah pernah mengusir separatis dan siap untuk melakukannya lagi.
Kembali ke timeline saat ini, Rusia untuk pertama kalinya menyatakan bahwa mereka tidak menganggap Donas sebagai bagian dari Ukraina pada Senin (21/2) lalu. Pernyataan Putin tersebut membuka jalan bagi Rusia untuk mengirim pasukan militernya ke daerah-daerah separatis secara terbuka. Rusia dapat menggunakan argumen bahwa mereka melakukan intervensi sebagai sekutu untuk melindungi Donbas dari Ukraina. Sebelum itu, Rusia juga telah mengerahkan puluhan ribu tentara di perbatasan Ukraina.
Lantas, mengapa Putin memilih untuk melancarkan serangannya sekarang? Melansir Al Jazeera, approval rating alias tingkat kepercayaan publik terhadap Putin dilaporkan menurun karena warga Rusia menolak vaksinasi dan mengutuk kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.
Padahal, tingkat kepercayaan publik terhadap Putin pernah mencapai hampir 90 persen setelah pencaplokan Krimea. Perang dan eskalasi baru dalam konflik Ukraina lantas dinilai dapat mengalihkan perhatian publik Rusia dari masalah domestik dan meningkatkan popularitas Putin.
Kekinian, serangan Rusia dilaporkan telah mencapai Kyiv. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah memperingatkan bahwa Moskow akan berusaha merebut Kyiv sebelum fajar.
Namun beberapa jam kemudian, militer Ukraina lantas menyatakan bahwa tentaranya sempat memukul mundur serangan Rusia di Kyiv. Melalui laman Facebook resminya, militer Ukraina menyatakan bahwa Rusia menyerang salah satu unit militer di Victory Avenue di Kyiv. "Serangan itu berhasil dihalau," ungkap pihak militer Ukraina tanpa merinci dimana tepatnya inisiden itu terjadi.
(wk/Bert)