Anak Muda Salah Kaprah Artikan 'Healing'? Ternyata Ini Makna Sebenarnya
Pxhere
SerbaSerbi

Healing sering disalahartikan anak mudah zaman sekarang sebagai liburan atau staycation. Ternyata bukan begitu, berikut arti sebenarnya dari kata Healing.

WowKeren - Anak muda kerap mengartikan healing sebagai liburan atau staycation. Mereka mengaku memerlukan healing saat stres. Namun, arti healing ternyata tidak sesederhana liburan. Salah kaprah anak muda dalam mengartikan kata healing juga dirasakan musisi Tanah Air, Yura Yunita.

"Banyak remaja masa kini yang 'self love kamu itu apa sih? Healing lah liburan'. Nah, sekarang itu banyak presepsi bahwa healing adalah liburan atau staycation," kata Yura Yunita dalam kanal YouTube-nya.

Prof. Rhenaldi Kasali, Ph.D juga membenarkan bahwa anak muda zaman sekarang kerap memakai kata healing dalam situasi apapun. "Apa-apa self healing, dikit-dikit self healing. Ini adalah kata-kata yang banyak digunakan oleh kaum muda belakangan ini. Padahal healing ini tidak sesederhana yang diucapkan, bukan itu," kata Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

Menurut Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, salah kaprah mengartikan kata healing muncul lantaran banyak orang mengalami overthinking. "Ini semata-mata karena adanya overthinking dan setelah itu kemudian lagi-lagi mereka mengatakan mereka butuh healing. Bukan itu. Jadi terjadilah apa yang disebut salah menggunakan kata," jelas Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

Lantas, apa arti sebenarnya kata healing? Healing merupakan proses untuk mengobati luka psikologis di masa lalu. Umumnya, luka psikologis harus diobati dengan metode penyembuhan dari para ahli. Hal itu turut dibenarkan oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.


"Healing adalah sebuah proses yang diperlukan untuk mengatasi sebuah luka psikologis di masa lalu. Kita menyebutnya seringkali sebagai luka batin. Ada sebuah kejadian di masa lalu yang membekas dan tentu saja ada proses untuk penyembuhannya. Supaya kita bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi di masa depan," terang Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

Sementara itu, pakar penyembuhan holistik Reza Gunawan mengklaim arti healing yang sering digaungkan anak muda saat ini adalah feeling better. Ada perbedaan makna antara feeling better dan healing. Feeling better adalah cara untuk mengalihkan rasa stres atau depresi sesaat. Sedangkan makna healing dianalogikan dengan konsep luka akibat terjatuh.

"Healing itu diasosiasikan dengan feeling better, mau melakukan sesuatu yang membuat kita merasa lebih baik. Menurut saya, feeling better tidak selalu sama artinya dengan healing,” kata Reza Gunawan.

"Analoginya, ketika kita misalnya jatuh terluka di siku kita, terkelupas dan sakit terus kita makan es krim. Kita feeling better tapi tidak menyembuhkan luka. Meski merasa enak tapi tidak menyembuhkan dan saya kira itu salah kaprah yang terjadi masyarakat sekarang," lanjut Reza Gunawan.

Lantas, mengapa banyak anak muda salah mengartikan healing ya? Nah, beberapa faktor ini ternyata menjadi penyebabnya.

(wk/Sisi)

1. Kurangnya Literasi


Kurangnya Literasi
Pixabay

Budaya kurang membaca menjadi salah satu faktor penyebab mengapa banyak orang salah mengartikan healing. Pendapat itu juga disampaikan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

"Kurang literasinya. Mereka sering salah mengartikan hanya karena literasinya tunggal. Jadi perlu selalu memperbaiki literasi. Ingat, dunia baru ini kaya akan informasi dan penjelasan-penjelasan. Tentu perlu memvalidasi kebenaran. Kita perlu membaca buku-buku atau informasi tambahan," terang Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

2. Pengaruh Media Sosial


Pengaruh Media Sosial
Pixnio

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D mengatakan bahwa media sosial membuat banyak orang terpapar informasi yang salah termasuk soal healing. Seringkali media sosial menjadi ajang ikut-ikutan tanpa menyerap kebenarannya.

"Anak-anak muda sekarang luar biasa. Sekarang merasa dirinya mandiri. Merasa serba tahu karena ada media sosial, jadi terpapar info-info di media sosial terutama dengan kata-kata yang sangat populer," kata Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

"Dan setelah itu mereka cocok-cocokkan dengan dirinya dengan apa yang dikatakan di sosial media. Karena cocok kemudian mereka mengatakan 'ah, saya butuh healing' jadi apa-apa sekarang healing," lanjut Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

3. Self Diagnosis Yang Keliru


Self Diagnosis Yang Keliru
Pixabay

Banyak orang merasa bisa memecahkan persoalan mereka sendiri. Mereka cenderung menyimpulkan sesuatu dari internet tanpa tahu fakta sesungguhnya. Hal itu lagi-lagi disampaikan oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

"Sekarang ini media sosial memberikan informasi yang sangat kaya maka kita merasa bisa memecahkan persoalan kita sendiri. Ini adalah self diagnosis. Cek di Google dan kemudian sudah menyimpulkan, 'oh, saya begini saya begitu' tanpa tahu kebenarannya," jelas Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

So, apakah kalian termasuk orang-orang yang salah mengartikan healing? Semoga ulasan WowKeren di atas dapat membuka pandangan kalian tentang healing yang sebenarnya ya.

Eits, tapi penasaran enggak sih kalian dengan ciri-ciri orang yang benar-benar butuh healing? Nah, WowKeren bakal mengulasnya di artikel selanjutnya. Nantikan ya! See you.

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait