Kecaman Dunia Untuk Serangan Mematikan di Stasiun Kereta Ukraina yang Tewaskan 52 Orang
Dunia
Konflik Rusia dan Ukraina

Foto-foto dari stasiun di Kramatorsk menunjukkan sejumlah mayat yang ditutupi terpal. Ada pula foto yang menunjukkan sisa-sisa rudal yang dicat dengan kata-kata 'Untuk anak-anak' dalam bahasa Rusia.

WowKeren - Sebuah rudal dilaporkan menghantam stasiun kereta api tempat ribuan orang berkumpul, sebagian besar terdiri dari wanita dan anak-anak, di Kramatorsk, Ukraina, pada Jumat (8/4). Insiden ini menewaskan sedikitnya 52 orang dan melukai ratusan orang lainnya.

Foto-foto dari stasiun di Kramatorsk menunjukkan sejumlah mayat yang ditutupi terpal. Ada pula foto yang menunjukkan sisa-sisa rudal yang dicat dengan kata-kata "Untuk anak-anak" dalam bahasa Rusia.

Kantor jaksa agung Ukraina mengungkapkan ada sekitar 4 ribu warga sipil berkumpul di dalam dan di sekitar stasiun tersebut, mengindahkan seruan untuk pergi sebelum pertempuran meningkat di wilayah Donbas. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengharapkan tanggapan global yang keras atas insiden ini.

Sementara itu para pemimpin lainnya menuduh militer Rusia sengaja menyerang stasiun tersebut. Pihak Moskow sendiri telah membantah bertanggungjawab atas serangan tersebut dan menyatakan bahw tuduhan itu "sama sekali tidak benar".

Meski pihak Moskow telah memberi bantahan, serangan tersebut tetap menuai kecaman dunia. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, "mengutuk keras" serangan itu, dengan mengatakan serangan itu bertujuan untuk mencegah warga sipil melarikan diri dari permusuhan.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga mengutuk serangan stasiun kereta api sebagai perbuatan "keji". von der Leyen bersama Borrell dan para pemimpin Eropa lainnya telah mengunjungi Ukraina pada Jumat.


"Serangan rudal pagi ini di stasiun kereta api yang digunakan untuk evakuasi warga sipil di Ukraina sangat keji," cuit von der Leyen di akun Twitter resminya. "Saya terkejut dengan hilangnya nyawa dan saya secara pribadi akan menyampaikan belasungkawa saya kepada Presiden @ZelenskyyUa."

Kecaman serupa juga datang dari Amerika Serikat (AS). Presiden AS Joe Biden mengatakan serangan itu adalah "kekejaman mengerikan lainnya yang dilakukan oleh Rusia, menyerang warga sipil yang mencoba mengungsi dan mencapai tempat aman".

Biden sendiri berjanji untuk terus memberikan bantuan keamanan dan senjata kepada Ukraina. "Dan, bersama dengan sekutu dan mitra kami, kami akan mendukung upaya untuk menyelidiki serangan ini saat kami mendokumentasikan tindakan Rusia dan meminta pertanggungjawaban mereka," cuit Biden.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyebut pemboman mematikan itu sebagai "kekejian". Ia menyayangkan para warga sipil yang terus menjadi korban dalam perang tersebut.

"Warga sipil Ukraina melarikan diri dari yang terburuk. Senjata mereka? Kursi dorong, boneka beruang, dan koper. Di stasiun kereta Kramatorsk pagi ini, keluarga yang menunggu untuk pergi mengalami hal yang tak terpikirkan. Puluhan tewas, ratusan terluka. Ini adalah kekejian," cuit Macron.

Tak hanya itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut mengecam serangan di stasiun Ukraina tersebut. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan serangan terhadap Kramatorsk, serta serangan lainnya terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil "sama sekali tidak dapat diterima".

"Sekretaris Jenderal mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mereka di bawah hukum internasional untuk melindungi warga sipil dan urgensi untuk menyepakati gencatan senjata kemanusiaan untuk memungkinkan evakuasi yang aman dan akses kemanusiaan ke populasi yang terjebak dalam konflik. Sekretaris Jenderal mengulangi seruannya kepada semua pihak untuk segera mengakhiri perang brutal ini," ungka juru bicara Guterres, St├ęphane Dujarric.

(wk/Bert)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel