Sebagai informasi, sejak Tsai Ing-wen terpilih menjadi Presiden Taiwan, negara tersebut dikeluarkan dari status di WHO. Namun kini AS membantu Taiwan untuk mengembalikan status WHO terhadap Taiwan.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 28 April 2022 - 18:02 WIB
WowKeren - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) diketahui dengan suara bulat meloloskan Rancangan Undang-Undang yang meminta Departemen Luar Negeri untuk mengajukan rencana dalam rangka membantu Taiwan mendapatkan kembali status pengamatnya di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sebuah pertunjukan kerja sama bipartisan yang langka.
Setelah melewati Senat pada Agustus tahun lalu, kini DPR meloloskan RUU 425 ke 0 pada Rabu (27/4). Kemudian sekarang akan pergi ke Gedung Putih, di mana Presiden Joe Biden dibarapkan untuk menandatangani tindakan itu agar menjadi Undang-Undang (UU).
Sebagaimana diketahui, Taiwan dikeluarkan dari sebagian besar organisasi global seperti WHO, badan kesehatan PBB, karena keberatan dari Beijing, yang menganggap pulau itu bagian dari wilayahnya dan bukan negara yang terpisah. Langkah ini lantas mengarahkan menteri luar negeri untuk menetapkan strategi guna memperoleh status pengamat di Majelis Kesehatan Dunia, badan pembuat keputusan WHO.
Sebagai informasi, Taiwan dicopot dari status itu pada tahun 2017, setelah Tsai Ing-wen terpilih sebagai presiden. Atas hal ini, Beijing melihat Tsai sebagai separatis dan telah meningkatkan tekanan di pulau itu sejak dia menjabat, berusaha membatasi partisipasi Taipei tidak hanya di WHO tetapi di organisasi non-politik lainnya seperti Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).
Tidak hanya itu, jumlah negara yang menjalin hubungan diplomatik formal dengan Taiwan juga telah menyusut sejak Tsai menjadi presiden, dengan hanya 15 negara yang saat ini mengakui Taipei atas Beijing.
Sementara itu, mendesak dukungan untuk RUU tersebut, Perwakilan Demokrat Gerry Connolly memuji tanggapan Taiwan terhadap pandemi COVID-19 , mencatat bahwa hanya ada 37 ribu kasus yang dikonfirmasi meskipun populasinya 23,5 juta, dan bahwa Taiwan berbagi keahlian dan menyumbangkan peralatan pelindung secara internasional.
"Kepemimpinan dan kontribusi Taiwan terhadap keamanan kesehatan global menunjukkan mengapa itu harus menjadi bagian dari percakapan umum tentang kesehatan masyarakat,"ujar Connolly dalam keterangannya, dikutip Kamis (28/4).
Terkait dengan DPR AS yang meloloskan RUU dalam rangka membantu mendapatkan status dari WHO untuk Taiwan, Kemenlu Taiwan pun mengucapkan terima kasih atas dukungan Amerika, dengan mengatakan pemerintah melanjutkan upaya untuk dapat mengambil bagian tahun ini.
Sikap AS itu tentu saja berbanding terbalik dengan Tiongkok yang telah mengindikasikan tidak akan mendukung pastisipasi Taiwan di majelis pada tahun 2022 ini. Sementara itum Taiwan bersikeras berkampanye untuk mendapatkan kursi pengamat di majelis pada tahun 2021 namun tidak berhasil.
(wk/tiar)