Sebelumnya, mahasiswa telah mengepung rumah PM Sri Lanka dan memintanya untuk mengundurkan diri. Kemudian, langkah ini disusul oleh para biksu yang juga mendesak petinggi negara mengundurkan diri imbas krisis ekonomi.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 29 April 2022 - 18:43 WIB
WowKeren - Krisis ekonomi yang terjadi di Sri Lanka diketahui masih sangat parah kondisinya. Akibatnya, para mahasiswa hingga biksu yang dihormati dan disebut berpengaruh di Sri Lanka pun melakukan aksi demo hingga mengepung rumah Perdana Menteri (PM) Sri Lanka Mahinda Rajapaksa.
Adapun aksi tersebut dilakukan untuk mendesak Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri karena dinilai tidak bisa mengatasi permasalahan krisis ekonomi, bahkan semakin parah. Aksi dari masyarakat ini pun tampaknya membuahkan hasil.
Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa telah setuju untuk menggantikan Mahinda Rajapaksa yang juga kakak laki-lakinya itu dari jabatannya sebagai PM dalam pemerintahan sementara yang diusulkan untuk memecahkan kebuntuan politik yang disebabkan oleh krisis ekonomi terpuruk negara tersebut dalam beberapa dasawarsa. Hal ini disampaikan seorang anggota parlemen terkemuka pada Jumat (29/4).
Gotabaya pun setuju bahwa dewan nasional akan ditunjuk untuk menunjuk perdana menteri baru dan Kabinet yang terdiri dari semua partai di Parlemen, kata anggota parlemen Maithripala Sirisena setelah bertemu dengan presiden. Sirisena ini diketahui merupakan presiden sebelum Gotabaya sekaligus anggota parlemen partai yang yang memerintah sebelum membelot awal bulan ini bersama dengan hampir 40 legislator lainnya.
Terkait dengan Gotabaya yang setuju untuk mencopot Mahinda itu, Rohan Weliwita selaku Juru Bicara Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa, mengatakan presiden belum mengomunikasikan niat untuk memecat perdana menteri dan keputusan akan diumumkan jika langkah tersebut diambil.
Sebagaimana diketahui, Sri Lanka hampir bangkrut dan telah mengumumkan menangguhkan pembayaran pinjaman luar negeri sampai merundingkan rencana penyelamatan dengan Dana Moneter Internasional. Sri Lanka pun harus membayar utang luar negeri USD7 miliar tahun ini, dan USD25 miliar pada tahun 2026. Cadangan devisanya kurang dari USD1 miliar.
Di samping itu, kekurangan devisa telah sangat membatasi impor, memaksa orang untuk menunggu dalam antrean panjang untuk membeli kebutuhan pokok seperti makanan, bahan bakar, gas untuk memasak, dan obat-obatan.
Sebagai informasi, Presiden Rajapaksa dan keluarganya telah mendominasi hampir setiap aspek kehidupan di Sri Lanka selama hampir 20 tahun terakhir. Maka dari itu, tak heran bila para pengunjuk rasa memadati jalan-jalan sejak Maret dan menganggap mereka bertanggung jawab atas krisis tersebut dan menuntut mereka mundur dari politik.
(wk/tiar)