Reaksi Wanita Afghanistan Usai Taliban Wajibkan Mereka Tutupi Wajah di Luar Rumah
Unsplash/Javad Esmaeili
Dunia

Wali laki-laki alias mahram dari wanita Afghanistan yang melanggar aturan itu akan menerima peringatan. Sedangkan untuk pelanggaran berulang, mereka akan dipenjara.

WowKeren - Taliban telah memerintahkan wanita Afghanistan untuk menutupi wajah mereka dengan burqa saat keluar rumah. Wali laki-laki dari wanita yang melanggar aturan itu akan menerima peringatan, dan untuk pelanggaran berulang mereka akan dipenjara.

"Jika seorang wanita tertangkap tanpa jilbab, mahramnya (wali laki-laki) akan diperingatkan. Kali kedua, wali akan dipanggil (oleh pejabat Taliban), dan setelah dipanggil berulang kali, walinya akan dipenjara selama tiga hari," demikian pernyataan Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan.

Dekrit baru tersebut disambut dengan kecaman dan kemarahan dari para wanita serta aktivis Afghanistan. Seorang profesor universitas wanita bernama Marzia (bukan nama sebenarnya) mempertanyakan mengapa Taliban mereduksi wanita menjadi objek yang diseksualisasi.

"Saya seorang Muslim yang taat dan menghargai apa yang telah diajarkan Islam kepada saya. Jika, sebagai pria Muslim, mereka memiliki masalah dengan jilbab saya, maka mereka harus menjaga jilbab mereka sendiri dan menundukkan pandangan mereka," ujar Marzia dilansir Al Jazeera. "Mengapa kita harus diperlakukan seperti warga negara kelas tiga karena mereka tidak bisa menjalankan Islam dan mengendalikan hasrat seksual mereka?"

Marzia merupakan wanita lajang berusia 50 tahun yang kini harus menjaga ibunya. Ia kini tak memiliki mahram dan merupakan satu-satunya pencari nafkah untuk keluarganya.


"Saya belum menikah, dan ayah saya sudah lama meninggal, dan saya merawat ibu saya," paparnya. "Taliban membunuh saudara laki-laki saya, satu-satunya mahram saya, dalam serangan 18 tahun lalu. Akankah mereka sekarang meminta saya meminjam mahram untuk mereka (untuk) menghukum saya lain kali?"

Marzia mengaku telah berulang kali dihentikan Taliban kala bepergian seorang diri untuk bekerja di universitasnya. Sebelumnya, Taliban diketahui telah mengeluarkan dekrit yang melarang wanita bepergian seorang diri.

"Mereka secara berkala menghentikan taksi yang saya tumpangi, menanyakan dimana mahram saya," ujarnya. "Ketika saya mencoba menjelaskan bahwa saya tidak memilikinya, mereka tidak mau mendengarkan. Tidak masalah bahwa saya seorang profesor yang dihormati; mereka tidak menunjukkan martabat dan memerintahkan sopir taksi untuk meninggalkan saya di jalan."

Aktivis hak-hak perempuan yang berbasis di Afghanistan maupun luar negeri juga memiliki sentimen yang senada dengan Marzia. Salah satunya adalah Huda Khamosh, seorang aktivis yang telah memimpin demonstrasi wanita di Kabul pasca Taliban mengambilalih kekuasaan musim panas lalu.

"Rezim Taliban dipaksakan pada kami, dan aturan yang mereka buat sendiri tidak memiliki dasar hukum, dan mengirim pesan yang salah kepada para wanita muda dari generasi ini di Afghanistan, mengurangi identitas mereka menjadi pakaian mereka," katanya. "Jangan pernah diam."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait