Elon Musk Ngaku Akan Batalkan Larangan Twitter Terhadap Donald Trump
Dunia

Sebagai informasi, dewan Twitter memang telah menyepakati dengan suara bulat untuk menjual platform media sosial tersebut ke Musk dengan nilai USD 44 miliar atau setara Rp 634 triliun.

WowKeren - Elon Musk mengaku akan membatalkan larangan untuk Donald Trump di Twitter jika ia berhasil mengambil alih kepemilikan perusahaan media sosial tersebut. CEO Tesla tersebut menilai keputusan untuk memblokir akun Twitter Trump tanpa batas waktu "salah secara moral dan sangat bodoh".

"Melarang Trump dari Twitter tidak mengakhiri suara Trump; itu akan memperkuatnya di antara yang benar. Dan itulah mengapa itu salah secara moral dan benar-benar bodoh," ujar Musk dalam konferensi Financial Times Future of the Car pada Selasa (10/5).

Musk menyatakan bahwa dirinya kini belum resmi memiliki Twitter. Namun ia mengkritik penangguhan tidak terbatas pada Twitter secara umum dan mengatakan akan membatalkan "larangan permanen" terhadap Trump.

Sebagai informasi, dewan Twitter memang telah menyepakati dengan suara bulat untuk menjual platform tersebut ke Musk dengan nilai USD 44 miliar atau setara Rp 634 triliun. Namun kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan dari pemegang saham.


Adapun akun Twitter Trump ditangguhkan tanpa batas waktu usai kerusuhan US Capitol pada 6 Januari 2021 lalu. Kala itu, pendukung Trump telah mengobrak-abrik gedung Capitol untuk mencegah sertifikasi kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS.

"Setelah meninjau Tweet terbaru dari akun @realDonaldTrump dan konteks di sekitarnya, kami telah menangguhkan akun tersebut secara permanen karena risiko hasutan kekerasan lebih lanjut," demikian pernyataan Twitter kala itu.

Meski demikian, Musk menilai larangan terhadap Trump tersebut sangat bodoh. Ia mengatakan bahwa keputusan itu "mengalienasi sebagian besar negara dan pada akhirnya tidak mengakibatkan Donald Trump tidak memiliki suara".

Musk sepertinya mendukung beberapa tindakan moderasi terhadap unggahan "destruktif", termasuk penangguhan sementara dan membuat tweet tidak terlihat oleh pengguna lain. Namun dia tidak merinci dengan detail apa yang dimaksud dengan unggahan "destruktif".

Ditanya tentang kemungkinan kembalinya Trump ke Twitter, juru bicara Gedung Putih Jen Psaki menyuarakan keprihatinan umum tentang disinformasi di situs media sosial. "Saya akan mengatakan itu keputusan oleh perusahaan sektor swasta untuk membuat siapa yang akan atau tidak akan diizinkan di platform mereka," katanya pada hari Selasa.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait