El Salvador disebut telah menuntut 181 wanita yang menderita kedaruratan obstetrik selama 20 tahun terakhir. Kedaruratan obstetrik merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan wanita kehilangan bayinya setelah 20 minggu kehamilan.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 11 Mei 2022 - 15:05 WIB
WowKeren - Pengadilan El Salvador menjatuhi hukuman 30 tahun penjara atas kematian anaknya yang belum lahir usai ia mengalami keguguran. Pada Senin (9/5), hakim memutuskan bahwa wanita yang hanya disebut sebagai "Esme" tersebut bersalah atas pembunuhan.
Diketahui, Esme mencari bantuan medis di sebuah rumah sakit di El Savador pada Oktober 2019 lalu. Pegawai rumah sakit disebut sering melaporkan wanita yang mengalami keguguran ke polisi. Esme menghabiskan dua tahun dalam penahanan pra-sidang dan telah dibebaskan pada Oktober 2021 sebelum akhirnya dijatuhi hukuman 30 penjara pada hari Senin lalu.
"(Putusan itu) merupakan pukulan keras bagi jalan untuk mengatasi kriminalisasi kedaruratan obstetrik yang, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Pengadilan Hak Asasi Manusia Inter-Amerika, harus diperlakukan sebagai masalah kesehatan masyarakat," ujar Presiden Kelompok Warga untuk Dekriminalisasi Aborsi, Morena Herrera.
Undang-Undang aborsi El Salvador diketahui memang merupakan salah satu yang terkeras di dunia. El Salvador melarang total prosedur aborsi dan tidak memberi pengecualian bagi kehamilan hasil pemerkosaan serta inses, atau bahkan saat nyawa sang ibu atau anak terancam.
Menurut The Citizen Group, pemerintah El Salvador telah menuntut sekitar 181 wanita yang menderita kedaruratan obstetrik secara pidana selama 20 tahun terakhir. Sebagai informasi, kedaruratan obstetrik merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan seorang wanita kehilangan bayinya setelah 20 minggu kehamilan.
Menurut para aktivis, ratusan wanita tersebut dituntut karena aborsi atau pembunuhan berat. Meski jaksa terkadang membatalkan dakwaannya, lusinan wanita harus mendekam di balik jeruji besi.
Adapun larangan aborsi yang paling keras disebut diterapkan kepada perempuan pedesaan yang miskin dengan sedikit akses ke perawatan prenatal. Ini berarti wanita-wanita tersebut lebih rentan mengalami keguguran. Para aktivis juga mengatakan bahwa Esme "sangat miskin" dan berasal dari daerah pedesaan di bagian timur El Salvador.
Aturan ini tentu menuai banyak penentangan. Pada tahun 2021, para advokat dan selebriti berunjuk rasa di belakang gerakan "Las 17" yang menyoroti 17 wanita yang telah dihukum karena mengalami keguguran. Menurut Human Rights Watch, 5 wanita di antaranya telah dibebaskan dari penjara.
(wk/Bert)