Penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia jadi lebih umum terjadi selama beberapa dekade terakhir. Perubahan iklim hingga deforestasi disebut jadi penyebabnya.
- Amelia Nur Fatimah
- Sabtu, 11 Juni 2022 - 21:48 WIB
WowKeren - Dengan merebaknya cacar monyet di seluruh dunia setelah COVID-19, kekhawatiran baru muncul. Ada kekhawatiran meningkatnya wabah penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia dapat memicu pandemi lain.
Sementara penyakit seperti itu (yang disebut zoonosis) telah ada selama ribuan tahun, mereka menjadi lebih umum dalam beberapa dekade terakhir karena berbagai penyebab. Mulai dari deforestasi, budidaya ternak massal, perubahan iklim dan pergolakan dunia hewan yang disebabkan manusia lainnya.
Penyakit lain yang melompat dari hewan ke manusia termasuk HIV, Ebola, Zika, Sars, Mers, flu burung, dan wabah pes. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Kamis (9/6)) bahwa mereka masih menyelidiki asal-usul Covid-19.
Namun "bukti terkuat masih seputar penularan zoonosis". Dan dengan lebih dari 1.000 kasus cacar monyet yang tercatat secara global selama sebulan terakhir, badan PBB itu telah memperingatkan ada risiko "nyata" penyakit itu bisa berkembang di puluhan negara.
Direktur kedaruratan WHO, Michael Ryan mengatakan pekan lalu bahwa "bukan hanya cacar monyet", cara manusia dan hewan berinteraksi menjadi "tidak stabil". "Jumlah penyakit ini menular ke manusia meningkat dan kemudian kemampuan kita untuk memperkuat penyakit itu dan menyebarkannya di dalam komunitas kita meningkat," ungkapnya.
Sementara itu, sekitar 60 persen dari semua infeksi manusia yang diketahui bersifat zoonosis. Demikian juga 75 persen dari semua penyakit menular baru dan yang muncul, menurut Program Lingkungan PBB. Dr Restif mengatakan jumlah patogen dan wabah zoonosis telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir karena "pertumbuhan populasi, pertumbuhan ternak, dan perambahan ke habitat satwa liar".
"Hewan liar telah secara drastis mengubah perilaku mereka sebagai respons terhadap aktivitas manusia, bermigrasi dari habitat mereka yang terkuras," katanya.
"Hewan dengan sistem kekebalan yang lemah berkeliaran di dekat orang dan hewan peliharaan adalah cara pasti untuk mendapatkan lebih banyak penularan patogen."
Dr Benjamin Roche, spesialis zoonosis di Institut Penelitian untuk Pembangunan Prancis, mengatakan bahwa deforestasi memiliki dampak besar.
"Deforestasi mengurangi keanekaragaman hayati: kita kehilangan hewan yang secara alami mengatur virus, yang memungkinkan mereka menyebar lebih mudah," katanya kepada AFP.
Dan yang lebih buruk mungkin akan datang, dengan sebuah studi besar yang diterbitkan awal tahun ini memperingatkan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko pandemi lain.
Ketika hewan melarikan diri dari habitat alami mereka yang memanas, mereka akan bertemu spesies lain untuk pertama kalinya. Berpotensi menginfeksi mereka dengan sekitar 10 ribu virus zoonosis yang diyakini "beredar diam-diam" di antara mamalia liar, sebagian besar di hutan tropis, kata studi tersebut.
(wk/amel)