Belanda Laporkan Telah Mendeteksi Kasus Subvarian Omicron BA.2.75, Jadi Negara Terbaru
Unsplash/Noralí Nayla
Dunia

Virus COVID-19 tampaknya masih dan terus berkembang menjadi strain-strain baru. Seperti pada subvarian Omicron yakni BA.2.75, yang baru saja ditemukan di Belanda.

WowKeren - Pandemi COVID-19 hingga saat ini masih belum berakhir, bahkan terus bermunculan strain-strain baru. Seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh Belanda.

Pada Rabu (13/7), Belanda melaporkan bahwa mereka telah menjadi negara terbaru yang mendeteksi kasus subvarian Omicron BA.2.75. Para ahli pun disebut menyatakan keprihatinan terkait penyebaran yang cepat atas jenis itu.

Sebagai informasi, subvarian yang dijuluki sebagai "Centaurus" itu pertama kali terdeteksi di India pada Mei lalu. Kemudian menyebar ke sekitar 10 negara lainnya, termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman, dan Australia. "Sekarang juga telah diidentifikasi di Belanda," bunyi keterangan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Belanda, dilihat dari malaymail, Kamis (14/7).

"Sedikit yang diketahui tentang BA.2.75," lanjut Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Belanda. "Tetapi tampaknya lebih mudah melewati pertahanan yang dibangun terhadap SARS-CoV-2 melalui perubahan kecil dan spesifik."

Sementara itu, pada pekan lalu, Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan bahwa pihaknya tengah melacak strain itu, tetapi ada "urutan terbatas untuk dianalisis". "Subvarian ini tampaknya memiliki beberapa mutasi pada domain pengikatan reseptor dari protein lonjakan, jadi kita harus memperhatikannya," terang Swaminathan dalam video Twitter.


Swaminathan kemudian menambahkan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk mengetahui seberapa baik strain tersebut dalam hal bisa kebal terhadap antibodi atau tingkat keparahannya dibanding strain lainnya.

Di sisi lain, Antoine Flahault selaku Direktur Institut Kesehatan Global di Universitas Jenewa mengatakan bahwa penyebaran BA.2.75 di India mengindikasikan itu bisa lebih menular daripada subvarian Omikron BA.5, yang telah mendorong gelombang di Eropa dan KITA.

"Tampaknya menjadi strain dominan di India, pertanyaannya adalah apakah itu akan menjadi strain dominan di seluruh dunia?" tutur Flahault kepada AFP. Ia kemudian mengatakan bahwa strain dominan sebelumnya, seperti Delta, pertama kali mengambil alih negara tempat mereka muncul sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Meski begitu, kata Flahault, ada "margin ketidakpastian," menunjuk bagaimana BA.2.12.1 menjadi dominan di AS tetapi BA.5 "berhasil" ketika keduanya datang dalam persaingan langsung. Dengan adanya perkembangan varian secara berturut-turut, menurutnya, semakin membuat pengembangan vaksin untuk melawan mereka lebih sulit.

Hal itu dikarenakan pada saat satu dosis suntikan yang menargetkan mereka siap diluncurkan, strain yang lebih baru telah mengambil alih. Sementara mengenai karakter Ba.2.75, Flahault juga mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk mengetahui tingkat keparahan BA.2.75, tambahnya.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait