Iran Putus Akses Internet Bendung Gelombang Protes Buntut Kematian Mahsa Amini
AFP/Ozan Kose
Dunia

Mahsa Amini ditahan pada 16 September karena diduga memakai jilbab dengan cara yang dianggap tidak pantas. Aktivis mengatakan Mahsa Amini mengalami pukulan fatal di kepala.

WowKeren - Iran telah mematikan internet di beberapa bagian ibu kota Teheran dan Kurdistan. Pemerintah juga memblokir akses ke platform media sosial seperti Instagram dan WhatsApp.

Langkah itu diambil dalam upaya untuk mengekang gerakan protes yang berkembang yang mengandalkan media sosial. Protes yang dipicu pada 16 September setelah kematian seorang Kurdi berusia 22 tahun dalam tahanan polisi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Sebagaimana diketahui, Mahsa Amini ditahan pada 16 September karena diduga memakai jilbab dengan cara yang dianggap tidak pantas. Aktivis mengatakan Mahsa Amini mengalami pukulan fatal di kepala. Pejabat telah membantah klaim ini.

Pihak kepolisian terus bersikeras bahwa Mahsa Amini meninggal karena sebab alami namun pihak keluarga mencurigai bahwa wanita tersebut meninggal karena menjadi sasaran pemukulan dan penyiksaan.


Azadeh Akbari, peneliti pengawasan siber di University of Twente, memandang jika pemutusan internet merupakan bentuk penindasan. Pasalnya, media sosial adalah sarana komunikasi yang penting.

"Pemutusan internet harus dipahami sebagai perpanjangan dari kekerasan dan penindasan yang terjadi di ruang fisik," katanya. "Media sosial sangat penting untuk memobilisasi pengunjuk rasa, tidak hanya untuk mengoordinasikan pertemuan tetapi juga untuk memperkuat tindakan perlawanan."

Pada Kamis (22/9) massa membakar kantor polisi dan kendaraan di sejumlah kota. Media Iran melaporkan jika tiga anggota milisi yang dikerahkan untuk menangani kerusuhan justru berakhir ditikam atau ditembak. Itu terjadi di kota barat laut Tabriz, kota pusat Qazvin dan Mashhad di timur laut negara itu.

Kantor berita setempat juga melaporkan jika anggota keempat pasukan keamanan tewas di kota selatan Shiraz. Sebaliknya, dari pihak pengunjuk rasa dilaporkan seseorang ditikam sampai mati di Qazvin. Hingga kini, jumlah protestan yang tewas selama kerusuhan dilaporkan ada enam orang.

Selama pemakaman Amini, para protestan terus menyerukan tiga kata, "Perempuan, Hidup, Kebebasan". Kata-kata ini terus diulangi oleh pengunjuk rasa di seluruh negeri. Protes besar-besaran ini termasuk yang paling serius terjadi di negara itu sejak kerusuhan tahun 2019 lalu terkait kenaikan harga bahan bakar.

(wk/zodi)

You can share this post!

Artikel Terkait