Pangeran Arab digambarkan sebagai sosok terkaya ke-13 di dunia namun hobi minum alkohol dan menghabiskan waktu dengan gadis-gadis. Banyak yang protes setelah episode ini tayang.
- Farida Amalia Dwi Yanti
- Rabu, 12 Juli 2023 - 09:29 WIB
WowKeren - Rating "King the Land" di berbagai situs web baru-baru ini anjlok ke angka yang sangat rendah. Penurunan rating drastis ini karena kontroversi atas penggambarkan karakter Pangeran Arab bernama Samir (Anupam Tripathi).
Sang pangeran digambarkan sebagai sosok terkaya ke-13 di dunia namun hobi minum alkohol dan menghabiskan waktu dengan gadis-gadis. Setelah dua episode baru "King the Land" tayang, penonton Arab menuliskan berbagai kritikan.
Pasalnya penggambaran sosok playboy ditambah menyajikan alkohol kepada karakter muslim seakan tidak menghormati keyakinan budaya mereka. Selain itu, ada kontroversi seputar casting aktor India untuk peran seorang pangeran Arab.
Selama akhir pekan, rating 1/10 mulai menumpuk di situs rating populer IMDb. Sekitar 99,4 persen pengguna Arab Saudi menilai "King the Land" dengan rating 1/10. Sedangkan 96,8 persen pengguna Uni Emirat Arab juga memberi drama yang dibintangi Yoona ini dengan rating 1 dari 10.
Google juga mencatat rating "King the Land" turun menjadi 1,8 dengan perolehan bintang 1,5. Dari situs Rotten Tomato, rating drama yang dibintangi Junho cs itu turun menjadi 13 persen. Sejumlah komentar kritikan juga dituliskan di situs Rotten Tomato.
Di sisi lain, para pemain "King the Land" ikut mendapat komentar negatif dari para penonton. Tak cuma akun Instagram Anupam saja, namun Yoona dan Junho juga menjadi sasaran komentar negatif yang meminta JTBC meminta maaf dan menghapus scene kontroversi itu.
Sementara itu, pihak produksi "King the Land" sebenarnya sudah buka suara terkait kontroversi karakter Pangeran Arab ini. "Semua latar, tokoh, daerah, dan nama tempat dalam serial ini adalah fiksi. Pangeran Samir tidak digambarkan sebagai pangeran dari negara tertentu," ungkap tim produksi.
Tim produksi juga menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menyindir atau mendistorsi budaya tertentu. "Kami menghormati berbagai budaya dan akan lebih memperhatikan untuk memastikan bahwa produksi di masa mendatang tidak menimbulkan ketidaknyamanan," ungkap mereka.
(wk/amal)