Nanie Darham, bintang film 'Air Terjun Pengantin', menuai sorotan terkait penyebab kematiannya yang diduga akibat malpraktik saat operasi sedot lemak. Pengacara keluarga sempat membeberkan kalau kasus dugaan malpraktik itu tengah diselidiki polisi.
- Ria Susilo Wardhani
- Jumat, 24 November 2023 - 12:21 WIB
WowKeren - Bintang film "Air Terjun Pengantin", Nanie Darham, jadi sorotan setelah terkuak kabar kematiannya. Meninggal pada 21 Oktober lalu, muncul dugaan kalau Nanie menjadi korban malpraktik saat melakukan operasi sedot lemak di sebuah klinik kecantikan di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.
Menurut kuasa hukum keluarga Nanie, Hartono Tanuwidjaja, artis yang baru 2 bulan melahirkan itu awalnya berkonsultasi untuk operasi sedot lemak pada 6 Oktober lalu. Seorang dokter di klinik yang dituju Nanie itu bersedia melakukan operasi. Padahal, dokter kandungan sebenarnya sudah menyarankan agar Nanie menunggu minimal 6 bulan pasca melahirkan. Nanie sebenarnya juga sudah berkonsultasi dengan dokter di RS Brawijaya yang memberikan saran berbeda. Namun, Nanie tetap memutuskan untuk operasi di klinik kecantikan yang ia tuju.
"Yang pertama adalah bahwa kondisi korban Nanie Darham ini adalah seorang ibu yang mempunyai anak balita, yang pertama anak usia 3 tahun laki-laki, yang kedua baru melahirkan 2 bulan sebelum tanggal pelaksanan operasi yaitu pada bulan Agustus," ujar Hartono dalam jumpa pers via kanal YouTube HukumID Channel. "Jadi pada saat konsultasi ke dokter, Nanie pada saat itu didampingi oleh rekannya yang bernama saksi Erika, Erika dalam penjelasan kepada pihak kepolisian menyatakan bahwa pada saat konsultasi, dokter ini hanya memperlihatkan tablet mengenai prosedur operasi liposuction atau sedot lemak itu. Dia bilang bahwa operasi sedot lemak itu merupakan operasi yang ringan, biasa, bahkan pasien itu bisa dengan bius lokal itu bisa sambil main HP. Nah, di situ mungkin yang menjadikan satu faktor ketertarikan dari korban Nanie untuk melakukan operasi liposuction."
Hartono lantas membahas soal biaya operasi sedot lemak itu. Awalnya Nanie membayar uang muka Rp10 juta untuk sedot lemak yang seharusnya dijadwalkan awal November. Namun, pihak klinik diduga mengubah jadwal pada 21 atau 24 Oktober. Nanie juga sempat berkonsultasi soal kemungkian melakukan operasi sedot lemak per bagian. Saat konsultasi, pihak klinik diduga tak memberikan informasi mendetil dan menyakinkan Nanie untuk melakukan operasi sedot lemak di sejumlah titik. Pihak klinik juga menjanjikan kalau operasi tersebut akan berlangsung sekitar 2 jam dan disebut bakal aman dengan masa recovery diprediksi sekitar 3 hari.
"Persoalan muncul, bahwa pada saat Nanie datang, di situ, apa yang sudah disepakati untuk harga operasi pada tanggal 21 sebesar Rp200 juta itu ternyata berubah. Karena pada kurun waktu itu, ternyata dokter menawarkan mau nggak diajukan operasi tambahan di dua titik. Satu di bok*ng sama di pinggang belakang," kata Hartono. "Untuk itu, korban Nanie diminta untuk menambah biaya Rp100 juta, jadi awalnya disepakati Rp200 juta menjadi Rp300 juta. Tapi teknisnya, resikonya tidak diceritakan. Pada jam itu Nani menghubungi suaminya, yang bernama James, dia mengajukan tambahan budget persetujuan tadi kan, karena kan yang dia lapor ke suami kan 200 juta nih, kok tiba-tiba dalam hitungan jam tiba-tiba jadi 300. Suami juga tanya, apa sih? Oh ini ditambah di bok*ng sama di pinggang belakang gitu ya, sehingga harus 300. Tapi teknisnya sama sekali tidak dijelaskan. Jadi kemudian setelah bayar 300 itu, Nanie naik ke lantai 2 untuk menjalani operasi."
Prosesi operasi itu juga bertambah dari 2 jam menjadi 5 jam. Yang mengejutkan, pihak klinik diduga tidak meminta persetujuan dari pihak keluarga terkait penambahan jam tersebut. Hartono lantas menambahkan kalau pihak klinik lantas menghubungi Erika untuk memberitahu nomor telepon suami Nanie. Ini karena kondisi Nanie tiba-tiba tidak stabil dan harus dirujuk ke RS Dokter Suyoto. Namun saat James datang, Nanie diduga sudah dinyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit. Hartono lantas mengungkap jika kasus ini sudah ditangani oleh Polres Jakarta Selatan dan masih dalam proses penyelidikan.
"Jadi kan ini ada dua nih. Satu menyatakan sudah meninggal, satu bilang ini masih hidup. Nah itu nanti ranah kepolisian, sekali lagi, kita sekarang sedang menunggu," kata Hartono. "Polisi sudah melakukan visum tapi masih sebatas memeriksa bagian luar. Dan hasil visum menyatakan ada tiga bekas luka di tubuh Nanie yang pertama di punggung tangan, yang kedua di sayatan bekas tindakan media di perut. Tetapi itu tidak cukup menjelaskan apa penyebab kematian korban Nanie. Sehingga perlu dilakukan uji lab crime."
(wk/riaw)