Sinopsis Pelangi di Mars, Film Hybrid Sci-fi Karya Talenta Indonesia
TMDB/themoviedb.org
Selebriti

Film hybrid sci-fi Indonesia 'Pelangi di Mars' tayang 18 Maret 2026, mengisahkan petualangan gadis di Mars bersama robot untuk selamatkan Bumi.

WowKeren - Film Indonesia kembali menapak ke genre fiksi ilmiah dengan karya terbaru berjudul "Pelangi di Mars". Film hybrid yang memadukan live-action dan animasi 3D ini dijadwalkan tayang perdana di bioskop pada 18 Maret 2026. Film ini mengisahkan petualangan epik seorang gadis bernama Pelangi di Planet Mars pada tahun 2100, dalam misi mencari mineral langka untuk menyelamatkan Bumi dari krisis air.

"Pelangi di Mars" akan mengeksplorasi penjelajahan di Mars dengan kisah berpusat pada perjuangan seorang gadis bernama Pelangi bersama sekumpulan robot. Berlatar tahun 2100, Pelangi, yang diperankan oleh Keinaya Messi Gusti, tercatat sebagai manusia pertama yang lahir dan tumbuh besar di Planet Mars. Seluruh hidupnya dihabiskan di lingkungan planet yang tandus dan sunyi, tanpa pernah sekalipun menginjakkan kaki di Bumi.

Pelangi adalah bagian dari koloni manusia yang pernah mencoba menaklukkan Mars. Namun, ketika koloni tersebut memutuskan untuk kembali ke Bumi, Pelangi justru tertinggal, termasuk ditinggal oleh ibunya, Pratiwi, seorang ilmuwan yang diperankan oleh Lutesha. Gadis itu pun harus bertahan hidup seorang diri di tengah kesunyian luar angkasa, hanya berteman dengan teknologi usang dan serpihan kenangan masa kecil.

Kehidupan sunyi Pelangi berubah ketika ia menemukan sekelompok robot tua yang terbengkalai. Penemuan ini bukan hanya memberinya teman dan sekutu baru, tetapi juga memulai petualangan epik antara manusia dan mesin. Bersama para robot tersebut, Pelangi memimpin misi berbahaya melintasi medan Mars untuk mencari Zeolith Omega, sebuah mineral langka yang diyakini mampu memurnikan air secara total dan menjadi harapan terakhir umat manusia di Bumi.


Film ini merupakan debut penyutradaraan film panjang bagi Upie Guava. Upie ikut menggarap naskah film ini bersama Alim Sudio. Dalam proses kreatifnya, Upie mengungkapkan bahwa film itu membutuhkan waktu pengerjaan hingga 5,5 tahun. Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk memboyong teknologi mutakhir ke industri film Indonesia.

"Pelangi di Mars" digarap dengan metode hybrid, yaitu menggunakan perpaduan teknologi Live Action, animasi 3D, dan Extended Reality (XR) yang didukung oleh Unreal Engine. Dengan layar LED raksasa sebagai latar, semesta Mars dihadirkan secara real-time, memungkinkan para aktor berinteraksi langsung dengan lingkungan digital yang tampak sangat nyata.

Upie menekankan bahwa film ini sepenuhnya dikerjakan oleh seniman asli Indonesia. Pengerjaan melibatkan animator dari berbagai kota seperti Jakarta, Jogja, Solo, hingga Bali. Urusan music scoring juga dipercayakan kepada seniman asal Indonesia yang berkarier di Amerika Serikat.

Selain Keinaya Messi Gusti dan Lutesha, film "Pelangi di Mars" juga dibintangi oleh Rio Dewanto, Myesha Lin Adeeva Afsheen, dan Livy Renata. Dengan kombinasi teknologi canggih dan cerita yang mendalam, film ini diharapkan dapat menjadi tonggak baru bagi perfilman sci-fi Indonesia dan menarik minat penonton luas ketika tayang mulai 18 Maret 2026.

(wk/timw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait