Review Film Pelangi di Mars: Ambisi Tinggi dengan Eksekusi yang Kurang
Instagram/Instagram
Selebriti

Film Pelangi di Mars menawarkan ambisi tinggi namun kurang dalam eksekusi cerita.

WowKeren - Film terbaru berjudul Pelangi di Mars menghadirkan ambisi tinggi dari kreator lokal Indonesia, namun eksekusi ceritanya dinilai kurang realistis. Disutradarai oleh Upie Guava, film ini merupakan karya animasi hybrid live-action yang mengisahkan perjuangan seorang ibu di Mars dengan sentuhan humor dan karakter robot.

Di tengah perkembangan industri animasi yang mulai menggeliat, Pelangi di Mars menunjukkan bahwa cita-cita besar dari para kreator Indonesia tidaklah sia-sia. Namun, seperti halnya bayi yang harus merangkak sebelum bisa berlari, film ini juga harus menghadapi banyak tantangan dalam eksekusinya.

Idea cerita yang ditulis oleh Upie Guava dan Alim Sudio memang sangat ambisius, terutama setelah suksesnya film Jumbo pada tahun 2025. Upie, yang dikenal lebih banyak berkecimpung dalam pembuatan video musik, mencoba menggabungkan berbagai elemen dalam film ini. Ia tidak hanya sebagai sutradara, tetapi juga memegang peran sebagai sinematografer dan eksekutif produser, menunjukkan dedikasinya yang tinggi terhadap proyek ini.

Dalam hal visual, Pelangi di Mars menawarkan sinematografi yang enak dipandang. Upie jelas memahami cara membuat film yang menarik untuk mata penonton. Film ini dirancang untuk tayang di berbagai platform, mulai dari layar lebar hingga streaming digital. Namun, ambisi dan semangat yang ditunjukkan tidak cukup untuk menutupi kekurangan dalam cerita.

Durasi film yang mencapai hampir dua jam terasa terlalu panjang, dengan banyak materi yang dimasukkan, namun tidak semua bagian mampu memberikan bobot yang cukup kuat. Selama hampir dua jam, sebagian besar waktu dihabiskan dengan dialog dari lima robot yang terkesan berisik dan kurang substansial. Tampaknya, Upie dan Alim berusaha mengikuti tren media sosial, memasukkan banyak lelucon yang mungkin lebih cocok untuk platform digital.


Karakter-karakter robot dalam film ini seolah mengikuti pola dialog yang mirip dengan kecerdasan buatan, membuat mereka terkesan seperti ChatGPT yang hidup. Meskipun desain robot terinspirasi dari karya-karya Marvel dan Disney, film ini gagal menciptakan kedalaman emosional yang diharapkan.

Sayangnya, gagasan besar tentang bagaimana Pratiwi, sang tokoh utama, berjuang untuk membesarkan anaknya di Mars, tidak tergali dengan baik. Meski ada potensi untuk mengeksplorasi hubungan humanis antara Pelangi dan robot-robot tersebut, film ini justru terasa seperti kehilangan jiwa. Pertunjukan emosional memang ada, tetapi tidak cukup mendalam.

Beberapa elemen komedi dalam film ini berhasil menghibur, terutama untuk penonton anak-anak. Namun, jika Pelangi di Mars ditujukan untuk anak-anak, maka mungkin misi tersebut bisa dianggap tercapai meski tidak untuk penonton yang lebih kritis.

Selain masalah naskah, akting para pengisi suara juga menjadi sorotan. Tata rias yang kurang memadai dan tidak sesuai dengan cerita membuat penonton mempertanyakan konsistensi visual film ini. Di sisi positif, film ini menghadirkan beberapa lagu yang cukup menyenangkan untuk didengar, meskipun liriknya sederhana.

Melihat keseluruhan sajian dalam Pelangi di Mars, ada baiknya jika durasi film dipangkas menjadi sekitar 75 hingga 90 menit, dengan fokus lebih pada aspek humanis cerita. Mungkin penggantian gaya animasi menjadi 2D dengan sentuhan komik atau sketsa akan lebih cocok untuk menyampaikan pesan yang diinginkan.

(wk/timw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait