Acha Septriasa berbagi cerita mendalam tentang perannya di film Suamiku Lukaku yang mengangkat isu KDRT.
- Sabtu, 02 Mei 2026 - 05:32 WIB
WowKeren - Film terbaru berjudul Suamiku Lukaku yang diproduksi oleh SinemArt resmi merilis trailer pertamanya. Film ini mengangkat tema kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sebuah isu yang sering kali tersembunyi di balik citra keluarga yang tampak harmonis. Menariknya, film ini terinspirasi dari fakta bahwa satu dari empat perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Dalam trailer yang telah dirilis, penonton diperlihatkan hubungan yang penuh konflik antara Amina, yang diperankan oleh Acha Septriasa, dan Irfan yang diperankan oleh Baim Wong. Hubungan keduanya dikisahkan dipenuhi dengan kekerasan fisik dan verbal. Irfan digambarkan sebagai sosok yang terpandang di masyarakat, bahkan dianggap sebagai pemuka agama yang mengikuti jejak ayahnya. Namun, citra baiknya itu sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di rumah, di mana Amina menjadi korban kekerasan yang terus berulang.
Dampak dari perlakuan Irfan tidak hanya dirasakan oleh Amina, tetapi juga oleh putri mereka, Nadia, yang diperankan oleh Azkya Mahira, serta ibunda Amina yang diperankan oleh Ayu Azhari. Dalam perjalanan kisah ini, Amina mulai menunjukkan keberanian untuk melawan situasi yang menimpa dirinya. Ia mendapatkan dukungan dari Zahra, seorang pengacara yang diperankan oleh Raline Shah, yang berjuang untuk membantu perempuan mendapatkan hak-haknya.
Meskipun Amina berusaha untuk keluar dari lingkaran kekerasan, film ini menggambarkan bahwa perjalanan tersebut tidaklah mudah. Proses untuk meraih kebebasan dari KDRT mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak perempuan di dunia nyata. Melalui film ini, Acha Septriasa mengungkapkan betapa personalnya peran tersebut baginya. Ia menyatakan bahwa memerankan karakter Amina adalah sebuah pengalaman yang mendalam dan menggugah, yang membuatnya semakin peka terhadap isu-isu kekerasan dalam rumah tangga.
Film Suamiku Lukaku disutradarai oleh Ssharad Sharaan dan Viva Westi, serta ditulis oleh Titien Wattimena dan Beta Ingrid Ayu. Dengan tema yang relevan dan cerita yang menyentuh, film ini diharapkan dapat memberikan kesadaran lebih kepada masyarakat mengenai masalah KDRT yang sering kali terabaikan.
(wk/timw)