Mark Ruffalo menyatakan banyak artis Hollywood takut menolak merger Paramount dan Warner Bros.
- Sabtu, 09 Mei 2026 - 19:01 WIB
WowKeren - Mark Ruffalo baru-baru ini mengungkapkan bahwa banyak bintang Hollywood merasa takut untuk menandatangani petisi yang menolak merger antara Paramount dan Warner Bros. Meskipun hampir 5.000 tanda tangan berhasil dikumpulkan, banyak artis yang memilih untuk tidak bersuara karena khawatir akan dampak yang mungkin timbul dari tindakan mereka.
Dalam sebuah opini yang ditulis bersama Matt Stoller untuk The New York Times, Mark menekankan bahwa ketakutan tersebut bukanlah tanpa alasan. Ia menyoroti betapa banyaknya seniman dan artis yang sebenarnya mendukung penolakan terhadap kesepakatan ini, namun merasa tertekan untuk tidak mengungkapkan pendapat mereka.
“Hal yang paling terlihat tentang surat itu bukanlah orang-orang yang menandatanganinya. Melainkan orang-orang yang tidak menandatangani. Bukan karena mereka tidak setuju, tetapi karena mereka takut,” tulis Ruffalo dan Stoller. Mereka mencatat bahwa ada banyak alasan yang mendasari penolakan terhadap merger ini, tetapi rasa takut yang melanda para artis menjadi faktor utama.
Mark Ruffalo juga menjelaskan bahwa ketakutan ini telah membuat banyak orang merasa tidak nyaman untuk berbicara tentang isu-isu yang berhubungan dengan industri mereka sendiri. “Mereka mendukungnya, tetapi takut akan pembalasan. Ketakutan mereka bukan tanpa alasan,” tambahnya.
Ruffalo dan Stoller menekankan bahwa penggabungan ini tidak hanya akan berdampak negatif bagi industri film, tetapi juga akan menciptakan suasana di mana orang-orang merasa tertekan untuk mengungkapkan pikiran mereka tentang dunia hiburan. “Kita telah melihat apa yang terjadi ketika perusahaan yang cenderung monopoli mendapat keuntungan dari rasa takut yang membungkam perbedaan pendapat,” ungkap mereka.
Pernyataan ini muncul setelah Mark Ruffalo memberikan peringatan dalam sidang yang dipimpin oleh Senator Cory Booker mengenai potensi dampak negatif dari akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Paramount Skydance. Ia menyebutkan bahwa langkah tersebut bisa berakibat “menghancurkan” bagi industri film dan media berita.
Ruffalo menunjukkan bahwa konsolidasi kekuatan media dalam satu entitas besar dapat mengancam kebebasan pers dan demokrasi. Ia juga menyoroti potensi dampak ekonomi dari merger tersebut, di mana ribuan hingga puluhan ribu pekerja di industri media bisa kehilangan pekerjaan, terutama mengingat pola pemutusan hubungan kerja yang sering terjadi setelah merger besar.
Kedua penulis opini tersebut menutup tulisan mereka dengan harapan bahwa koalisi yang semakin berkembang di kalangan artis dapat mengatasi ketakutan yang ada. “Tetapi koalisi kita yang semakin berkembang menunjukkan bahwa ketika kita tidak terjebak di pinggir lapangan, tidak tunduk pada keniscayaan dan bersatu untuk berjuang, kita bisa menang. Dan siapa tahu? Jika kita bisa mengalahkan para oligarki yang mencoba merebut kendali atas acara TV dan film kita, mungkin kita juga bisa melakukannya di tempat lain,” tulis mereka.
(wk/timw)