Tablo Epik High membahas sistem sensor ketat di Korea yang mengganggu seni.
- Jumat, 19 Juni 2026 - 20:11 WIB
WowKeren - Epik High baru-baru ini menarik perhatian publik dengan pernyataan Tablo mengenai sistem sensor ketat yang berlaku di Korea Selatan. Dalam podcastnya yang bertajuk 'Hey Tablo', Tablo membahas bagaimana sensor ini bisa menghambat perkembangan seni, dengan mengambil contoh lagu mereka sendiri, 'Ddu Ddu Ru'.
Dalam penjelasannya, Tablo menyebutkan bahwa ada satu lirik di lagu tersebut yang dinyanyikan oleh Mithra Jin, yaitu '200 km pokju' yang berarti 'Masa muda kita melaju dengan kecepatan 200 km per jam'. Namun, karena kecepatan tersebut melebihi batas yang diizinkan di Korea, lagu itu terpaksa disensor. Tablo menekankan, 'Saya tidak bercanda,' sambil menambahkan bahwa ketika sebuah lagu disensor, pihak berwenang akan mengirimkan pemberitahuan kepada artis dengan alasan yang jelas. Untuk lagu Epik High tersebut, alasan yang tertera adalah masalah batas kecepatan.
Cuplikan singkat dari pembicaraan Tablo mengenai isu ini telah menyebar luas di media sosial dan memicu banyak reaksi dari netizen internasional. Banyak di antara mereka mengkritik bobot moral yang acak dalam sistem hukum di Korea. Salah satu pengguna Twitter/X menulis, 'Korea kadang-kadang bisa jadi lelucon. Pelanggar serius bisa mendapatkan hukuman maksimal dua tahun, tetapi sebuah lagu bisa disensor hanya karena menyebutkan batas kecepatan.' Pengguna lainnya menambahkan, 'Perkosa bisa bebas berkeliaran di masyarakat, tetapi sebuah lagu akan disensor jika bahkan mengisyaratkan pelanggaran hukum lalu lintas.'
Fenomena ini menunjukkan betapa anehnya regulasi yang ada, di mana banyak orang merasa bahwa tindakan yang lebih serius tidak mendapatkan perhatian yang sama. Beberapa netizen mengingat kembali bagaimana lagu 'Red Light' dari f(x) dilarang tayang di program musik karena menyebutkan kata 'ulat', yang ternyata merupakan nama sebuah perusahaan manufaktur berat. Hal ini semakin menunjukkan betapa ketatnya sistem sensor yang diterapkan di industri musik Korea.
Banyak yang berpendapat bahwa sistem sensor ini tidak hanya menghambat kreatifitas para artis, tetapi juga menciptakan kekacauan dalam cara hukum dan norma sosial di Korea ditafsirkan. Dalam konteks ini, Tablo berhasil menarik perhatian publik pada isu yang sering kali terabaikan, yaitu bagaimana regulasi yang ketat bisa memengaruhi kebebasan berekspresi dalam seni, terutama di industri musik.
Berikut video yang diunggah oleh Tablo yang membahas isu ini lebih dalam:
Dengan semakin banyaknya kritik yang muncul, banyak penggemar berharap agar sistem sensor ini dapat diperbaiki agar tidak menghalangi para artis dalam berkarya. Diskusi mengenai topik ini diharapkan dapat membuka mata banyak pihak tentang pentingnya memberikan ruang lebih bagi seni dan kreatifitas untuk berkembang tanpa batasan yang terlalu ketat.
(wk/timw)