Begini kisah tragis seorang dokter cantik demi menyelamatkan anjing dan hewan terlantar.
- Tim WowKeren
- Kamis, 09 Februari 2017 - 10:40 WIB
WowKeren - Taiwan baru-baru ini melarang tindakan medis eutanasia untuk hewan-hewan terlantar di penampungan. Pelarangan tersebut berawal dari kisah tragis seorang dokter hewan cantik bernama Chien Chih-cheng yang tewas bunuh diri dengan menggunakan obat eutanasia.
Chih-cheng yang berprofesi sebagai dokter hewan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah dipaksa membunuh ratusan anjing telantar. Tentu itu sangat berlawanan dengan kegemarannya dengan hewan terutama anjing. Ia mengakhiri hidupnya di usia ke 31 tahun dengan suntikan eutanasia pada Mei 2016 lalu.
Saat menjadi mahasiswi, Chih-cheng dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan sangat menyayangi hewan. Ia pun memutuskan untuk menjadi pemilik rumah penampungan hewan Taoyuan, di distrik Sinwu. Ia bahkan rela mengorbankan waktu istirahat dan liburnya demi merawat hewan-hewan tersebut.
Namun pemerintah Taiwan menerapkan peraturan eutanasia untuk para hewan terutama anjing di penampungan. Anjing yang terlalu lama tinggal di penampungan harus disuntik untuk mengurangi jumlah populasi hewan terlantar di kota. Chih-cheng pun harus melakukan eutanasia pada 700 ekor anjing selama dua tahun.
Setelah mengetahui hal tersebut, publik pun melakukan aksi protes dan menyerang Chih-cheng. Ia pun disebut sebagai "algojo cantik" dan menganggapnya sebagai pembunuh yang kejam. Tak tahan dengan hal tersebut, ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sebagai pelajaran berharga bagi pemerintah.
"Aku harap dengan kepergianku kalian juga mengerti bahwa hewan terlantar juga makhluk hidup. Aku harap pemerintah mampu memecahkan masalah ini dengan lebih baik. Tolong hargai hidup," tulis Chih-cheng dalam wasiatnya. Sejak saat itulah pemerintah menghapus peraturan eutanasia dan mencari jalan keluar terbaik untuk menangani anjing-anjing liar.
(wk/)