Mensos Khofifah menanggapi kisah hidup Berlin, korban tsunami yang mengajukan permohonan suntik mati.
- Tim WowKeren
- Senin, 08 Mei 2017 - 12:55 WIB
WowKeren - Kisah hidup Berlin Silalahi tengah menjadi sorotan belakangan ini. Tsunami yang melanda Aceh 12 tahun lalu rupanya membuat hidup keluarganya berantakan. Usai bencana tersebut ia, istri dan kedua anaknya terpaksa hidup seperti pengungsi, apalagi rumah hunian yang dijanjikan pemerintah tak kunjung terealisasi.
Penderitaan Berlin tidak berakhir sampai disitu. Pada 2014 ia mengalami asma dan asam urat. Dua tahun kemudian ia juga menderita peradangan tulang hingga divonis lumpuh oleh dokter. Kini ia hanya bisa tergolek lemah di tempat tidur dan hanya bisa mengharapkan bantuan dari tetangga untuk makan sehari-hari.
Penderitaan yang berkepanjangan membuat Berlin putus asa. Apalagi ia tidak bisa berobat lantaran terbentur biaya. Pria berusia 47 tahun itu kemudian meminta istrinya untuk mengajukan permohonan eutanasia atau suntik mati ke Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh.
Sang istri mengaku sudah melarang keinginan itu, tapi Berlin terus menerus memaksanya. "Orang bisa menganggap sikap sikap saya ini adalah putusan yang gila, tapi orang tidak tahu bagaimana derita yang kami rasakan," ujar istri Berlin, Ratnawati.
Penderitaan yang dialami oleh keluarga Berlin tersebut rupanya juga menjadi perhatian Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Menteri Khofifah mengatakan jika pihaknya akan melakukan pendampingan untuk keluarga tersebut.
Khofifah mengatakan jika Indonesia merupakan negara yang melarang eutanasia. "Di beberapa negara ada yang membolehkan praktik tersebut, tapi di Indonesia tidak," ujar Khofifah.
Ia sendiri mengaku prihatin dengan kisah yang terjadi pada keluarga Berlin. Khofifah berharap perkara terselesaikan dengan baik Pemerintah Daerah bisa mencarikan solusi untuk menolong Berlin.
(wk/)