Ternyata seperti ini sulitnya menjadi leader A Pink bagi Chorong, termasuk menghadapi konflik dengan para member.
- Eka Dewi Sofia Putri
- Jumat, 06 Juli 2018 - 16:53 WIB
WowKeren - Baru-baru ini Chorong dan Eun Ji A Pink menjadi bintang tamu di acara "Life Bar yang tayang Kamis (5/7) kemarin. Acara yang dipandu Shin Dong Yup ini juga menghadirkan Whee In dan [Hwasa] Mamamoo.
Di sini, Chorong mengungkapkan tekanan yang ia rasakan sebagai leader A Pink. Penyanyi kelahiran 1991 itu merasa bersalah kepada para member karena menurutnya, ia tak bisa menjadi tipe leader yang mereka butuhkan.
"Banyak orang mengira Eun Ji leadernya karena dia jago bicara dan dia juga jago di variety show," kata Chorong. "Dan walaupun aku yang paling tua di grup, saat kami baru debut, aku tidak punya banyak kegiatan jadi rasanya seperti aku yang mengikuti para member bukannya memimpin mereka. Aku tidak sampai depresi, tapi aku sangat merasa bersalah pada para member."
"Sebelum debut, semua member punya gol untuk debut bersama dan kami bekerja bersama-sama untuk mencapainya," lanjut Chorong, "Saat beberapa waktu berlalu dan kau menjalani pekerjaan lain, kau bisa mulai memiliki gol lain entah itu akting atau hal lainnya."
"Karena itu, para member mengalami masa sulit. Bagiku, aku punya fokus yang besar pada A Pink dan tim yang aku rasa tidak mudah bagi para member. Aku selalu berusaha menanamkan pada mereka, contohnya, 'Kau boleh jadi aktris Eun Ji, tapi tidak peduli apapun, kau adalah Eun Ji A Pink karena A Pink akan selalu mengikuti namamu'. Aku rasa aku bilang begini pada para member," ujar Chorong.
Eun Ji pun mengakui kalau saat itu, ia sempat marah mendengar kata-kata Chorong. "Bagiku, itu pertama kalinya aku di lokasi syuting drama, jadi seluruh lingkungannya asing bagiku dan itu sangat sulit," ungkap Eun Ji.
"Tapi hal pertama yang dikatakan Chorong padaku adalah bertindak dengan tanggung jawab menjadi member A Pink, jadi aku sangat kesal," sambungnya. "Kemudian kami banyak bicara. Aku pikir kami berhasil mengatasinya dengan sangat baik. Jika kami membiarkannya semakin memburuk, kami mungkin tidak akan dapat saling bertemu lagi, tapi kami terus mendiskusikannya."
(wk/dewi)