Jusuf Kalla memberikan pendapatnya tentang Jokowi yang semakin 'agresif' pada lawan politiknya.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 06 Februari 2019 - 17:19 WIB
WowKeren - Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo, kini semakin gencar memberikan "serangan" pada lawan politiknya. Mengaku lelah diam saja selama empat tahun, Jokowi mulai memberikan tepisan soal fitnah hingga sindiran pada kubu lawan.
Menanggapi hal tersebut, wakil Presiden Jusuf Kalla pun buka suara. Jusuf Kalla sendiri sudah menyatakan dukungannya kepada Jokowi dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
Menurut Jusuf Kalla, sikap Jokowi yang bosan "main halus" tersebut merupakan balasan atas sindiran sang lawan. Jusuf Kalla juga menuturkan bahwa selama ini Jokowi tak pernah menyerang secara pribadi.
"Menyindir, itu kan saling membalas. Kalau kita lihat secara baik, tidak pernah Pak Jokowi itu menyerang, dia menjawab balik," terang Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, Rabu (6/2). "Seperti kasus isu Indonesia bubar, punah, itu bukan. Pak Jokowi hanya membalas."
Menurut Jusuf Kalla, pernyataan lawannya hanya dibalikkan dengan keras oleh sang petahana. Jokowi juga disebut tidak pernah menyerang hal yang bersifat privat.
"Tidak pernah Pak Jokowi melontarkan sesuatu secara pribadi kepada lawannya," tutur Jusuf Kalla. "Tapi mengembalikan ke lawannya itu. Jadi menjawab dengan keras."
Meski demikian, Jusuf Kalla tidak menampik bahwa apa yang dilakukan oleh Jokowi bertujuan untuk menaikkan elektabilitas. Karena Calon Presiden pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendongkrak popularitasnya di mata publik.
"Otomatis (untuk menaikkan elektabilitas), semua kampanye ke luar kota pun untuk menaikkan elektabilitas," jelas Jusuf Kalla. "Mau ke mana, mau ngomong, tidak ngomong itu kan untuk menaikkan elektabilitas."
Sebelumnya, Jokowi sudah mengaku lelah dengan semburan fitnah yang ditujukan kepadanya. Ia pun tidak ingin lawan politik menganggapnya penakut hanya karena dirinya lebih banyak diam selama ini.
Meski demikian, mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menjelaskan bahwa dirinya tetap "menyerang" berdasarkan data dan fakta. Ia menekankan bahwa hak yang paling penting dalam menyampaikan pidato adalah tidak menyebar dusta dan kebohongan pada publik.
(wk/Bert)