Fadli menegaskan bahwa puisinya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Mbah Moen.
- Wahyu
- Selasa, 12 Februari 2019 - 11:27 WIB
WowKeren - Ribuan santri yang tergabung dalam Aliansi Santri Bela Kiai (ASBAK) menggelar aksi demo di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (8/2). Aksi ini menanggapi puisi Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon yang dianggap menghina Kiai Maimun Zubair (Mbah Moen).
Puisi Fadli dinilai sangat melukai hati para santri sehingga ia mendesak Fadli untuk segera meminta maaf. Juru Bicara dan Koordinator Aksi M Sa'roni mengatakan bahwa cuitan politikus Partai Gerindra itu dianggap semakin memperkeruh bangsa.
"Luka para santri tidak akan redam tanpa ada permintaan maaf dari politisi tersebut kepada syaikhona," kata Sa'roni dilansir dari Merdeka.com Selasa (12/2). "Luka itu akan semakin lebar dan semakin dalam ketika Fadli Zon seolah tanpa dosa mencuitkan kata-kata yang selalu memperkeruh bangsa ini."
Hal yang sama juga diserukan oleh Ketua Muslimat PP NU Khofifah Indar Parawansa. Ia berharap agar Fadli mau berbesar hati untuk segera meminta maaf. "Saya berharap Bang Fadli berbesar hati untuk minta maaf," kata Khoffifah di Solo, Sabtu (9/2).
Sementara itu, Fadli sendiri mengaku bahwa ia tidak bermaksud untuk menyinggung Mbah Moen lewat puisi tersebut. Sehingga, ia menolak untuk meminta maaf. "Ya, untuk apa saya melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan," kata Fadli di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Senin (11/2).
Ia menegaskan bahwa puisinya itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Mbah Moen. Fadli meminta agar puisi tersebut dipahami dengan baik. Ia kemudian menjelaskan bahwa ia menyebut kata penguasa dalam puisi itu, sehingga jelas bahwa yang dimaksud bukanlah Mbah Moen.
"Sudah saya jelaskan beberapa kali bahwa puisi itu ekspresi dan nggak ada hubungannya dengan Mbah Maimun," tegas Fadli. "Saya kira bagi mereka yang memahami puisi, itu sangat jelas. Bahkan dalam puisi itu disebutkan kaum penguasa, Mbah Maimun kan bukan penguasa."
Fadli menambahkan bahwa dirinya sangat menghormati Mbah Moen. Menurutnya, kiai tersebut adalah orang yang baik dan rendah hati. Untuk itu, Fadli meminta agar puisinya tak dipolitisasi.
"Jadi jangan dipolitisasi, jangan 'digoreng', maupun dipelintir," imbuh Fadli. "Nggak ada sama sekali. Saya mengenal beliau adalah ulama yang baik, ulama yang humble, ulama yang arif."
(wk/wahy)