Ma'ruf Amin sempat berkelakar saat menjawab isu dirinya akan digantikan oleh Ahok sebagai cawapres Jokowi.
- Silmi Amalia Fidareni
- Rabu, 27 Maret 2019 - 12:45 WIB
WowKeren - Isu Ma'ruf Amin akan digantikan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sempat merebak luas. Isu tersebut diawali dengan pengaduan Koran Indopos oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin kepada Dewan Pers.
Harian tersebut dikabarkan memuat berita kontroversial yang menyebutkan soal rumor Ma'ruf akan diganti dengan Ahok menjadi cawapres Jokowi. Berita tersebut berjudul "Ahok Gantikan Ma'ruf Amin?".
Sudah pernah membantah, Ma'ruf kembali menepis isu dirinya akan digantikan Ahok. Mantan Ketua MUI ini memberikan jawaban tegas bahwa penggantian dirinya harus melalui mekanisme yang tidak mudah.
"(Isu liar) Ma'ruf Amin sudah tua katanya mau diganti Ahok. Orang ganti itu ada mekanismenya, ada sistemnya," terang Ma'ruf saat mengisi ceramah di Masjid Shidiq Zarkasyi, Purworejo, Jawa Tengah pada Selasa (26/3). "Apalagi Ahok sudah pernah dipenjara, tidak mungkin jadi wakil presiden. Akalnya ke mana ente? Kok belo'onnya enggak habis-habis."
Lebih lanjut, Ma'ruf juga menanggapi isu mengenai dirinya yang disebut sudah terlalu tua untuk menjadi cawapres Jokowi. Ma'ruf bahkan sempat memberikan jawaban menohok usai dibilang akan segera meninggal dunia.
"Lalu dibilang sebentar lagi saya mati. Lah urusan mati itu bukan soal tua atau muda," lanjut Ma'ruf. "Ma'ruf Amin kan sudah tua. Siapa bilang saya muda? Enggak ada. Semua orang juga tahu, istrinya yang muda katanya, he-he-he...."
Memberikan tanggapan dengan santai, Ma'ruf juga berkelakar soal isu liar yang menyebut dirinya akan digantikan Ahok. Ia juga menyinggung perihal kemungkinan penggantian Jokowi, dan bukan dirinya.
"Kalau saya mati duluan, ya, ganti wakilnya," canda Ma'ruf Amin. "Tapi kalau Pak Jokowi mati duluan, saya yang ganti jadi presiden kan, he-he-he...."
Sebelumnya, Jokowi sudah memberikan tanggapannya terkait isu penggantian calon wakil presiden yang diusungnya itu. Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut membantah dan meminta agar fitnah-fitnah seperti itu dihentikan.
"Tidak mungkinlah," tegas Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Februari lalu. "Kita ini baru menuju kepada yang namanya Pileg dan Pilpres. Jangan diganggu dengan fitnah-fitnah seperti itu."
(wk/silm)