Jokowi menyayangkan cara-cara berpolitik yang memanfaatkan isu-isu tertentu karena tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia dalam menjunjung tinggi nilai tata krama.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 01 April 2019 - 11:52 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo mengaku kerap diterpa isu negatif. Salah satunya isu mengenai dirinya yang disebut-sebut berpihak pada asing. Salah satu contohnya adalah anggapan banyaknya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang ada di Indonesia, padahal masih banyak penduduk yang belum memiliki pekerjaan.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa dirinya tetap sabar menghadapi maraknya hoaks tersebut. Hal itu disampaikan olehnya saat menghadiri acara silaturahmi bersama Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) serta Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) di hotel Sutan Raja .
"TKA dulu (disebut) asing sekarang aseng. Untung saya sabar," kata Jokowi di Manado, Sulawesi Utara, Minggu (31/3). "Enggak mengerti saya kalau enggak sabar dan temperamental, mau saya apakan enggak ngerti."
Ia menegaskan bahwa jumlah tenaga asing di Indonesia masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan total jumlah penduduk yang ada. Dikatakannya, jumlah TKA bahkan tidak mencapai satu persen.
"Coba tenaga kerja asing yang ada di Indonesia hanya 0,03 persen dari jumlah penduduk," tegas Jokowi. "Satu persen saja enggak ada. Enggak ada yang ramai-ramai, enggak ada."
Oleh sebab itu, Jokowi sangat menyayangkan isu TKA yang diangkat ke ranah politik. Menurutnya, memanfaatkan isu-isu semacam ini dalam berpolitik praktis, adalah hal yang tidak beretika. Cara berpolitik yang demikian tak sesuai dengan budaya Indonesia yang seharusnya bisa menjunjung tata krama.
"Kita ini kok semua dijadikan isu politik. Inilah cara-cara berpolitik yang tidak beretika yang tidak bertata krama yang harus kita mulai benahi perbaiki," tutur Jokowi. "Sedih kita kalau lihat cara berpolitik seperti ini. Itu bukan budaya kita, bukan tata krama kita."
Sementara itu, ia juga meminta agar publik waspada terhadap perubahan-perubahan yang menanti di masa depan, termasuk dalam bidang industri. Dinamika tersebut bukanlah hal yang bisa dicegah sehingga setiap warga negara harus bisa membentengi diri mereka agar tak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
"Hati-hati dengan perubahan-perubahan ini," ujar Jokowi. "Bagaimana cepat menyikapi atau kita kehilangan karakter sebagai bangsa Indonesia. Kita tidak bisa lagi mencegah tidak bisa menghambat (perubahan) itu semua."
(wk/zodi)