Saat memberikan pidato di Hari Buruh Internasional, Capres 02 Prabowo Subianto kembali melontarkan kritik terhadap media, ia menyebut bahwa media telah merusak demokrasi di Indonesia.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 02 Mei 2019 - 17:10 WIB
WowKeren - Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto kembali mengkritik media. Saat memberikan pidato di Hari Buruh se-Dunia (May Day), ia menyebut bahwa media yang ada saat ini telah merusak demokrasi Indonesia.
"Media-media juga, gua salut sama elu masih berani ke sini. Akan tercatat dalam sejarah, hai media-media kau merusak demokrasi di Indonesia," kata Prabowo di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (1/5). "Ini saya bicara apa adanya kan? Betul? Betul. Ya gua harus bicara apa adanya dong. Yang tidak benar, ya tidak benar. Jangan kau balik."
Pernyataan Prabowo tersebut rupanya mendapat respons dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo alias Jokowi-Ma'ruf Amin. Juru Bicara TKN Ace Hasan Syadzily menilai pernyataan Prabowo menunjukkan bahwa Capres 02 tersebut adalah sosok calon pemimpin yang bukan hanya tidak paham akan fungsi pes, namun juga otoriter dan anti kritik.
"Tuduhan kasar seperti itu semakin menunjukan bahwa Prabowo sebagai pemimpin politik tidak pernah mau mengerti fungsi pers dalam demokrasi," ujar Ace dilansir dari Okezone, Kamis (2/5). "Bahkan sangat jelas mencerminkan watak seorang pemimpin otoriter yang sangat anti kritik dan juga anti pada suara kritis media."
Menurutnya, serangan Prabowo terhadap media bukan pertama kali ini terjadi. Ia menilai bahwa Prabowo menganggap media telah merusak demokrasi karena tidak menyuarakan kepentingan politiknya.
Padahal, media bekerja dengan menjunjung asas jurnalisme, dimana apa yang diberitakan oleh mereka adalah berdasarkan fakta di lapangan. Setelah melakukan kroscek fakta dan sebagainya, media kemudian menyiarkan berita yang berfungsi untuk memberikan informasi pada masyarakat.
"Padahal media bekerja berdasarkan prinsip jurnalisme," tegas Ace. "Memberitakan berdasarkan fakta, melakukan check dan recheck terhadap apa yang disampaikan, serta juga melakukan edukasi ke publik."
Oleh sebab itu, Ace tidak setuju jika media dikatakan sebagai sarana untuk menyebar hoaks. Sebab, menyebar hoaks bertolak belakang dengan asas jurnalisme yang dianut oleh media. "Dengan cara kerja media seperti itu jelas hoaks, kebohongan, dan juga ujaran kebencian tidak mendapatkan tempat di media kita," imbuh politikus Partai Golkar tersebut.
(wk/zodi)