Menurut mereka, kepedulian Risma terhadap masalah sampah Ibu Kota tak lepas dari permintaan DPRD DKI Jakarta. Sehingga rasanya tidak etis apabila pertolongan Risma dibalas seperti itu.
- Elvariza Opita
- Selasa, 06 Agustus 2019 - 17:44 WIB
WowKeren - Polemik ajakan DPRD DKI Jakarta agar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini masih bergulir. Bahkan perkara ini diduga akan memasuki ranah hukum pasca anggota Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta Marco Kusumawijaya "menyerang" Risma lewat cuitannya.
Sebagai pengingat, dalam cuitannya, Marco menyindir Risma sebagai calon potensial untuk menjadi Kepala Dinas Persampahan di Ibu Kota. Tak hanya itu, ia pun turut menyindir soal putra Risma, Fuad Bernardi, yang saat ini tengah diperiksa Kepolisian Daerah Jawa Timur terkait kasus amblesnya Jalan Gubeng.
Pemerintah Kota Surabaya pun berencana melaporkan cuitan Marco itu ke aparat penegak hukum. Sebab, menurut mereka, cuitan itu bersifat menyerang secara personal ke Risma.
Namun tak hanya jajaran Pemkot yang emosi akibat cuitan Marco, massa yang mengatasnamakan Arek Suroboyo pun ikut meluapkan amarah mereka atas kejadian tersebut. Bahkan Arek Suroboyo sampai menggelar aksi di depan Gedung Negara Grahadi demi membela sang wali kota.
Dalam aksi tersebut, massa terlihat membawa tempat sampah yang bertuliskan "Gak Ngurusi Jakarta Gak Patheken" yang berarti "Tak Mengurusi Jakarta Tak Masalah". Selain itu, ada pula tulisan "Arek Suroboyo Sayang Mak'e" dan "Dikiro Ikhlas Mak'e Dadi Tukang Sampah" yang mereka bawa.
Koordinator aksi, Aryo Seno Bagaskoro, menilai cuitan Marco sudah menghina Risma. Hal ini berarti Marco juga menghina warga Surabaya. Oleh karena itu, mereka pun menuntut permohonan maaf dari Marco.
"Tuntutan kami sementara saudara Marco juga harus meminta maaf bukan hanya kepada Bu Risma, tapi juga kepada kami Arek Suroboyo yang merasa tersinggung," ujarnya, Selasa (6/8). "Jadi yang terusik bukan hanya kami tapi seluruh arek Suroboyo. Dia harus meminta maaf kepada kami dan menyadari apa yang dilakukannya tidak etis."
Lebih lanjut, ia pun merasa "serangan" itu tidak pada tempatnya. Sebab, kepedulian Risma terhadap masalah sampah di Jakarta pun akibat permintaan dari DPRD.
"Kedua yang meminta untuk menyelesaikan persoalan sampah di DKI itu juga bukan kami, kami tidak pernah mau. Ya itu tadi ndak patheken kok," katanya, dikutip dari Detik News. "Saat kami sudah menjawab pertolongannya, Bu Risma sudah mau dan sebagainya kok ternyata malah dibalas seperti itu tidak sopan rasanya."
"Kami merasa jika responnya seperti itu sudahlah tidak usah, gak patheken," imbuhnya. "Gak jadi Gubernur DKI ya gak pateken. Masih ada jabatan lain yang bisa diisi oleh Bu Risma."
(wk/elva)