Maraknya teori konspirasi soal wabah Corona yang beredar di media sosial membuat Twitter mengambil tindakan untuk melawan informasi yang membuat publik menjadi bingung.
- Nidya Putri
- Jumat, 31 Januari 2020 - 14:55 WIB
WowKeren - Wabah virus Corona akhir-akhir ini masih menjadi topik panas di berbagai belahan dunia. Pasalnya, virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok ini telah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan status gawat darurat.
Tak sampai di situ, akibat dari wabah ini juga muncul berbagai teori-teori konspirasi yang beredar di dunia maya. Salah satunya seperti soal virus Corona yang dijadikan senjata biologis.
Adapula teori konspirasi yang menyebutkan jika virus dengan nama 2019-nCoV yang menjadi pandemik di Wuhan, Tiongkok merupakan hasil curian dari laboratorium di Kanada. Selain itu, sejumlah cocoklogi antara wabah Corona dan game "Resident Evil 6" pun bertebaran di media sosial.
"Menjamur"nya teori konspirasi tersebut di media sosial membuat Twitter berupaya untuk melawan penyampaian informasi yang salah dan membingungkan terkait dengan virus tersebut. Dikutip dari dari akun resmi Twitter Public Policy (@Policy), mereka mengumumkan untuk mencegah hasil pencarian otomatis yang mengarahkan ke konten yang tidak kredibel.
Sebagai gantinya, para pengguna Twitter nanti bisa memanfaarkan fitur search ke sebuah akun secara langsung, terutama ke organisasi terpercaya, misalnya lembaga kesehatan seperti Center for Disease Control and Prevention (CDC) Atlanta.
"Kami meluncurkan fitur pencarian khusus untuk memastikan bahwa ketika mencari informasi tentang #coronavirus, Anda terlebih dahulu akan menemukan informasi yang kredibel dan otoritatif," tulis Twitter dalam pernyataannya.
Selain itu, Twitter langsung membentuk kemitraan dengan berbagai organisasi di 14 negara, antara lain termasuk Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, dan akan memperluasnya ke lebih banyak negara ketika diperlukan.
Cara ini sebelumnya pernah dilakukan oleh Twitter untuk memerangi disinformasi terkait vaksin yang beredar di platformnya beberapa waktu lalu. Upaya tersebut mendorong pengguna untuk mencari fakta, mengarahkan pencarian terkait vaksin ke vaksin .ov, situs Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS), untuk mencegah penyebaran teori konspirasi dan informasi yang salah lainnya.
(wk/nidy)