Peneliti National Institutes of Health (NIH) meneliti kemampuan virus Corona bertahan hidup di permukaan benda yang lazim ditemui di rumah dan rumah sakit. Simak hasil selengkapnya berikut ini.
- Elvariza Opita
- Jumat, 13 Maret 2020 - 15:34 WIB
WowKeren - Wabah virus Corona tak hanya "menghajar" ahli kesehatan, tetapi juga para peneliti. Ikut berpacu dengan waktu, para peneliti ini dituntut untuk mengidentifikasi spesifikasi virus Corona yang saat ini menyerang dan mencari cara untuk menangkalnya.
Berbagai jurnal penelitian ilmiah terkait SARS-CoV-2, nama resmi virus Corona tersebut, pun dipublikasikan dengan gencar beberapa waktu belakangan. Yang terbaru, peneliti mengungkap sejumlah sifat mengerikan virus Corona yang ternyata dapat bertahan di udara dan permukaan benda mati.
Menurut penelitian oleh National Institutes of Health (NIH), virus penyebab COVID-19 itu ternyata bisa bertahan di udara selama beberapa jam atau permukaan benda mati untuk interval tiga hari. Penelitian ini sendiri dilakukan pada berbagai permukaan berbeda yang ditemukan di rumah dan rumah sakit.
Dari berbagai bahan baku benda mati yang lazim ditemui di rumah dan rumah sakit, rupanya produk berbahan plastik dan stainless steel lah yang harus sangat diwaspadai. Sebab penelitian menyebut virus Corona bisa bertahan di permukaan benda tersebut selama 2 sampai 3 hari.
Virus yang sama dilaporkan bisa bertahan hingga empat jam pada tembaga, dan 24 jam pada kardus. Dengan demikian, virus Corona masih bisa bertahan hidup di permukaan benda yang lazim ditemui di sekitar kita selama beberapa hari.
Sifat ini tentu membuat potensi penularan penyakit meningkat lantaran virus masih bisa menginfeksi manusia bahkan setelah lewat beberapa hari. Oleh karena itu para peneliti sangat menganjurkan untuk mencuci tangan secara teratur dengan sabun.
Tak hanya itu, virus tersebut ternyata bisa hidup dalam bentuk aerosol hingga tiga jam. Dengan demikian, virus Corona bisa bertahan hidup di udara selama tiga jam setelah "keluar" dari tubuh penderita lewat batuk atau bersih.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa transmisi aerosol dan fomit HCoV-19 masuk akal," ujar para peneliti lewat jurnal tersebut, dilansir pada Jumat (13/3). "Karena virus dapat tetap bertahan dalam aerosol selama beberapa jam dan pada permukaan hingga hari."
Kendati demikian, para peneliti tak membenarkan bila virus Corona bisa ditularkan lewat transmisi udara. Maksudnya belum ada hasil pasti soal potensi virus yang berada dalam bentuk aerosol di udara dapat terhirup dan menginfeksi individu lain.
"Namun, kami sama sekali tidak mengatakan ada penularan virus melalui aerosol," tegas Dr Neeltje van Doremalen, penulis utama penelitian dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases NIH.
(wk/elva)