Herd Immunity Ternyata Tak Bisa Hentikan Penyebaran Virus Corona Secara Total, Ini Alasannya
Dunia

Mantan ahli biostatistik dari Universitas Rockefeller Amerika Serikat (AS), Knut Wittkowski, mendukung pembentukan herd immunity melalui infeksi massal demi melawan pandemi corona.

WowKeren - Herd immunity atau kekebalan kelompok disebut-sebut dapat mengatasi pandemi virus corona (Covid-19). Salah satu pihak yang mendorong pembentukan herd immunity ini adalah mantan ahli biostatistik dari Universitas Rockefeller Amerika Serikat (AS), Knut Wittkowski.

Wittkowski mengklaim bahwa social distancing bukanlah langkah yang benar dalam menghadapi pandemi corona, ia menilai bahwa herd immunity adalah satu-satunya hal yang dapat menghentikan penyakit pernapasan seperti Covid-19. Namun, pihak Universitas Rockefeller sendiri menegaskan bahwa pandangan Wittkowski tidak mencerminkan pandangan Universitas Rockefeller sendiri, baik pimpinan maupun fakultasnya.

Meski taktik herd immunity banyak dikritik, Wittkowski masih teguh pada pendiriannya. "Kita harus membiarkan alam melakukan tugas vaksin, dan itu adalah menciptakan orang yang kebal karena mereka melalui bentuk penyakit yang sangat ringan," tutur Wittkoswki melansir USA Today pada Senin (20/4).

Sebagai informasi, herd immunity terbentuk saat sebagai besar populasi menjadi imun terhadap penyakit atau virus. Penyebaran penyakit atau virus tersebut pun dapat dihentikan lantaran hanya sedikit orang yang belum imun.

Sebagai catatan, herd immunity biasanya tercapai melalui vaksinasi, bukannya infeksi yang meluas. Sebagai contoh, herd immunity untuk penyakit campak tercapai saat 19 dari 20 orang telah divaksin.


Namun, Wittkowski sendiri mendukung taktik herd immunity melalui infeksi massal. Namun, taktik tersebut dinilai tidak bisa menghentikan penyebaran virus corona. "Kita tidak bisa bergantung pada agen infeksi yang sangat mematikan untuk menciptakan populasi imun," tegas virologis dari Fakultas Kedokteran Yale, Akiko Iwasaki.

Usaha untuk mencapai herd immunity melalui infeksi massal demi melawan Covid-19 juga akan membuat rumah sakit kewalahan. Selain itu, kondisi ini juga berisiko tinggi bagi warga yang lanjut usia.

Juru bicara WHO, Margaret Harris, juga meragukan pembentukan herd immunity melalui infeksi. Ia menilai informasi yang dimiliki tentang virus corona terlalu sedikit untuk tahu apakah cara tersebut akan efektif.

Selain itu, herd immunity juga berisiko karena hanya ada sedikit yang diketahui tentang kekebalan perlindungan alami terhadap virus yang sudah pernah menjangkit. Membuat orang-orang terpapar virus corona secara sengaja demi mencapai herd immunity berpotensi kontraproduktif jika orang dapat terinfeksi lagi tak lama setelah dinyatakan negatif.

"Dalam sebagian besar infeksi virus, orang yang terjangkit dan sembuh dapat mengembangkan imun setidaknya untuk jangka waktu tertentu dan tidak dapat terinfeksi kembali. Itu berlaku untuk sebagian besar virus, bukan semua," jelas Direktur Pusat Penelitian Virologi dan Vaksin dari Harvard University. "Untuk Covid-19, kita masih belum tahu. Kami belum memiliki bukti pasti apakah ada kekebalan perlindungan alami."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait