Di pintu masuk masjid Istanbul, rak-rak yang biasanya diperuntukkan bagi sepatu jemaah justru penuh dengan berbagai kebutuhan makanan yang bisa diambil oleh warga miskin terdampak COVID-19.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 22 April 2020 - 16:16 WIB
WowKeren - Masjid di Istanbul, Turki, rupanya beralih fungsi selama pandemi virus corona (COVID-19) berlangsung. Pasalnya, beberapa masjid di Istanbul disulap menjadi supermarket dadakan untuk warga yang terdampak pandemi.
Di pintu masuk masjid Istanbul, rak-rak yang biasanya diperuntukkan bagi sepatu jemaah justru penuh dengan makanan cepat saji, botol minyak, biskuit, dan kebutuhan makanan lainnya bak di supermarket. Namun alih-alih dijual, stok makanan tersebut rupanya diberikan secara gratis untuk siapa pun yang membutuhkan.
Di pintu masjid juga tertulis bahwa siapa pun bisa mengambil apa yang mereka perlukan. Mereka juga boleh meninggalkan barang atau makanan untuk disumbangkan pada warga lainnya.
Abdulsamet Cakir, imam masjid Dedeman di distrik Sariyer, mengemukakan gagasan untuk menjangkau kaum miskin melalui tempat ibadah setelah Turki menghentikan salat massal di masjid-masjid untuk menekan risiko penularan virus corona.
"Setelah penangguhan sholat massal, saya punya ide untuk menghidupkan kembali masjid kami dengan menyatukan orang-orang kaya dengan orang-orang yang membutuhkan," kata Cakir, seperti yang dikutip dari The Jakarta Post pada Rabu (22/4).
Imam muda tersebut mengatakan bahwa ia terinspirasi oleh budaya sumbangan pada periode Ottoman (Utsmaniyah) yang disebut "batu amal", yakni sebuah batu pilar kecil yang didirikan di lokasi tertentu dari kota untuk menghubungkan orang kaya dengan orang miskin.
Sistem ini bertujuan memberi amal dengan cara yang bermartabat tanpa menyinggung yang membutuhkan, dengan cara meninggalkan jumlah berapa pun yang mereka inginkan dalam rongga di atas batu amal. Mereka yang membutuhkan kemudian akan mengambil jumlah yang mereka butuhkan dan meninggalkan sisanya untuk orang lain.
"Setelah pandemi corona, kami telah memikirkan apa yang bisa kami lakukan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan," kata Cakir. "Dengan inspirasi dari budaya 'batu amal' nenek moyang kami, kami memutuskan untuk mengisi rak di masjid kami dengan bantuan saudara-saudara kami."
Cakir juga menggantung daftar di dinding masjid tempat warga yang membutuhkan bantuan menuliskan nama dan nomor telepon mereka. Ia kemudian mengirimkan daftar itu ke pihak berwenang setempat yang memeriksa apakah nama-nama itu benar-benar membutuhkan dan timnya kemudian mengirim pesan bahwa mereka dapat mengunjungi masjid dan menerima apa pun yang mereka butuhkan.
"Kami menyebarkan layanan sepanjang hari. Kami memanggil 15 orang untuk setiap setengah jam, sehingga kami menghormati jarak sosial dan tidak menyebabkan antrian besar," kata Cakir menambahkan. "Kami melakukan yang terbaik untuk membantu saudara dan saudari kita dengan cara sebaik mungkin tanpa menyinggung mereka," tambahnya.
(wk/luth)