Vaksin anti Corona yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Tiongkok, Sinovac Biotech, diklaim menunjukkan hasil positif ketika diujikan kepada sekelompok kera percobaan.
- Elvariza Opita
- Jumat, 24 April 2020 - 12:26 WIB
WowKeren - Kabar kurang sedap diterima dari penelitian di bidang pengembangan obat COVID-19. Diketahui riset yang mengujicobakan sebuah obat ke manusia berakhir negatif lantaran tak berhasil menangkal virus.
Namun ada berita cukup menyenangkan dari segi pengembangan vaksin COVID-19. Sebab salah satu jenis vaksin yang sudah mulai diuji coba ke hewan baru saja dilaporkan menunjukkan hasil positif.
Dilansir dari Science Magazine, peneliti dari perusahaan bioteknologi Tiongkok Sinovac Biotech memberikan vaksin COVID-19 dalam dua dosis berbeda kepada hewan uji. Hewan yang dipakai di sini adalah kera Rhesus macaques.
Vaksin yang diformulasi dari senyawa lawas tersusun atas virus yang sudah diinaktivasi (tidak lagi bisa menginfeksi) diinjeksikan kepada 8 ekor kera. Tiga minggu setelahnya, peneliti mulai memasukkan virus SARS-CoV-2 ke paru-paru kera dengan menggunakan saluran langsung melalui trakea.
Kera yang diinjeksikan dengan vaksin dosis tertinggi lah yang memberikan hasil paling positif. 7 hari setelah injeksi virus, peneliti tak bisa mendeteksi mikrobanya di saluran pernapasan kera-kera di kelompok tersebut.
Sedangkan kera dengan injeksi vaksin dosis rendah menunjukkan adanya tanda-tanda gejala infeksi. Hanya saja gejala infeksi ini terkendali dan pada akhirnya bisa diatasi oleh tubuh.
Hasil berbeda ditunjukkan oleh kera dalam kelompok kontrol yang hanya diberi virus SARS-CoV-2. RNA virus terdeteksi dalam jumlah besar di beberapa bagian tubuh kera, serta ada gejala pneumonia yang teramati.
"(Hasil ini) memberikan kami banyak kepercayaan diri (soal pengembangan vaksin COVID-19 bagi manusia)," kata Meng Weining selaku Direktur Senior Kebijakan Publik Sinovac Biotech, dilansir pada Jumat (24/4). Hasil penelitian ini pun dipublikasikan di jurnal bioRxiv pada 19 April 2020 lalu.
"Saya sangat menyukai (hasil ini)," kata ahli virologi di Icahn School of Medicine, Mount Sinai, Florian Krammer yang juga merupakan bagian dari tim peneliti. "Memang vaksinnya 'jadul', namun dia bekerja dengan baik. Dengan demikian, vaksin ini tetap bisa diproduksi bahkan di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah sekalipun."
Namun demikian hasil ini dirasa masih terlalu dini untuk dijadikan solusi mengatasi COVID-19. Para ilmuwan pun bersiap melakukan penelitian lanjutan agar ada hasil yang jauh lebih baik di masa depan.
(wk/elva)