Kim Yo Jong sendiri memang dilaporkan menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan posisi sang kakak, Kim Jong Un, yang kini gencar dikabarkan tengah dalam kondisi kritis, bahkan meninggal.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 29 April 2020 - 14:24 WIB
WowKeren - Badan intelijen Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah mulai mengumpulkan data dan informasi tentang Kim Yo Jong, yang tak lain adalah adik pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Hal ini lantaran Kim Yo Jong dilaporkan menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan sang kakak yang kini gencar dikabarkan tengah dalam kondisi kritis, bahkan meninggal.
Pernyataan itu disampaikan mantan pejabat Badan Intelijen Pusat (CIA), Bruce Klingner. "CIA bertanggung jawab mendapatkan data dari Keluarga Kim. Tak hanya informasi faktual, tapi juga perilaku setiap individu," ucap Bruce Klingner.
Bruce Klingner yang menghabiskan 20 tahun di CIA dan Badan Intelijen Pertahanan berujar, telik sandi tengah menggelar "analisis kepemimpinan". Di luar "analisis politik", mereka mempelajari sejarah pengobatan, temperamen, kepercayaan diri, dan kecenderungan bertindak cepat.
Klingner menerangkan, CIA akan mempelajari seberapa berpengaruh Kim Yo Jong, dan bagaimana petinggi Korea Utara memandangnya. Sejauh ini, keberadannya saat pesta pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Selatan, Februari 2018, memberikan data awal bagi AS.
"Hasilnya, pejabat yang lebih senior dari dia memberikan penghormatan," ujar Klingner seperti dikutip dari New York Post pada Rabu (29/4).
Namun, Klingner juga menekankan bahwa memperoleh informasi di Korea Utara sangatlah sulit. Bahkan ia mengklaim bahwa mendapatkan informasi di Uni Soviet jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan Korea Utara. "Saya melihat Soviet seperti buku terbuka dibandingkan Korut," paparnya.
Sementara itu, spekulasi terkait kematian Kim Jong Un sendiri mencuat usai ia absen dalam perayaan hari kelahiran kakeknya, Kim Il- Sung, pada 15 April lalu. Diketahui, Kim Il- Sung merupakan pendiri Korea Utara, dan peringatan setiap tanggal 15 April dianggap sebagai hari terpenting di negara tersebut.
Namun beberapa pihak membantah bahwa absennya Kim Jong Un berkaitan dengan kondisi kesehatannya. Bahkan staf kepresidenan Korea Selatan menyebut bahwa Kim Jong Un dalam kondisi hidup dan baik-baik saja.
Sedangkan surat kabar lokal Korea Selatan, JooAng Ilbo, lantas melaporkan bahwa alasan mengapa Kim Jong Un absen dalam acara penting tersebut. Bukan karena sudah meninggal, Kim Jong Un disebut tidak hadir karena ada "masalah di dalam Komando Pengawal Tertinggi yang bertugas mengawal pemimpin Korea Utara".
Sumber JooAng Ilbo sendiri mengindikasi adanya kasus virus corona (Covid-19) di kalangan pengawal pribadi Kim Jong Un. Surat kabar Korea Selatan tersebut lantas menyebut bahwa para pengawal pribadi Kim Jong-Un bertugas memeriksa rute dan selalu menempel padanya ke mana saja pemimpin Korea Utara itu pergi.
Alhasil, hal ini juga membuat risiko penularan Covid-19 terhadap Kim Jong Un meningkat. Kim Jong Un lantas disebut "sembunyi" alias membatasi kemunculannya di hadapan publik karena kasus Covid-19 tersebut.
(wk/luth)