Untuk negara yang memiliki jumlah penduduk 11 juta jiwa, Belgia telah mencatat tingkat kematian karena COVID-19 tertinggi di dunia. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
- Nidya Putri
- Kamis, 30 April 2020 - 14:17 WIB
WowKeren - Belgia baru-baru ini tercatat sebagai negara dengan tingkat kematian karena COVID-19 terbanyak di dunia. Memang tidak sebanyak Amerika Serikat atau Perancis tapi kematian per 100.000 penduduk di negeri ini merupakan yang tertinggi di dunia.
Hingga 27 April 2020, Belgia melaporkan lebih dari 7.200 kematian akibat COVID-19. Angka ini jauh dibandingkan dengan 55.000 kematian di Amerika Serikat atau 23.000 di Prancis. Namun, tingkat kematian berdasarkan data tersebut termasuk tertinggi di dunia mengingat populasi di negara tersebut hanya sekitar 11 juta jiwa.
Menurut Johns Hopkins University, sebanyak 62 pasien COVID-19 meninggal untuk setiap 100.000 penduduk di Belgia, negara dengan penduduk berjumlah sekitar 11 juta jiwa. Bandingkan dengan AS, kematian terjadi pada 17 pasien untuk setiap 100.000 penduduk.
Angka kematian yang tinggi ini disebabkan perbedaan cara Belgia dalam melaporkan kematian yang disebabkan oleh COVID-19. Belgia tidak hanya melaporkan kematian berdasarkan pasien yang sudah terkonfirmasi positif, tetapi juga seluruh kasus yang dicurigai terinfeksi virus corona termasuk meninggalnya pasien yang dirawat di rumah.
Metode tersebut berbeda dengan kebanyakan negara yang hanya menghitung kematian yang terjadi di rumah sakit. Seperti Spanyol dan Perancis yang secara rutin hanya menghitung kematian akibat virus corona di rumah sakit.
Belgia menghitung pasien yang terkonfirmasi positif dan pasien yang dicurigai terinfeksi, dan menurut pemerintahnya, ini akan membuat mereka bisa melawan penyakit ini dengan lebih baik. "Ketika kita tak punya kapasitas untuk mengetes semua orang, maka penting untuk menghitung pula kematian pada suspek atau orang dalam pengawasan," kata ahli penyakit menular Steven Van Gutch, penanggung jawab komite ilmuwan yang membantu pemerintah melawan virus corona di Belgia.
"Yang membedakan kami dengan negara-negara lain adalah kami menghitung angka kasus dengan lebih luas, yang membuat kami bisa mengambil langkah segera," sambungnya. Ia juga menjelaskan dari sistem yang "ekspansif dalam menghitung kematian, mereka bisa mendeteksi penyebaran virus corona di rumah-rumah yang merawat orang dalam pengawasan.
"Berkat sistem penghitungan seperti ini, kami mampu menangani masalah tepat waktu," katanya. Pada tanggal 15 April, sumber resmi menyatakan bahwa hampir setengah kematian akibat virus corona di Belgia terjadi di rumah-rumah.
Sayangnya, cara penghitungan jumlah kematian karena COVID-19 di Belgia ini memicu perdebatan para ahli. Seperti ahli virus Belgia, Marc Van Ranst yang mengkritik keras sistem penghitungan pemerintah ini di sebuah acara TV. "Hampir semua orang yang meninggal di rumah jumlahnya bisa mencapai 100 orang sehari dimasukkan ke dalam statistik corona," ujar Van Ranst.
Menjawab kritikan tersebut, Steven Van Gutch mengatakan bahwa hal ini sifatnya sementara. "Tampaknya kita punya angka kematian yang tinggi. Namun dalam kenyataannya data kita bisa dibandingkan dengan Prancis, atau Inggris misalnya," terang Van Gutch. "Ketika kita tinjau data dari negara lain dan perlihatkan angka sesungguhnya, tingkat kematian di Belgia cocok dengan pola negara lain."
"Saya paham beberapa orang merasa khawatir, tapi kami mencoba untuk setransparan dan sejujur mungkin," lanjutnya. "Mungkin kita membuat estimasi berlebihan terhadap jumlah kematian yang sesungguhnya. Namun ini lebih baik daripada tidak menghitungnya dengan pantas."
Sementara itu, menurut analisis Financial Times, jumlah keseluruhan kematian akibat COVID-19 di seluruh dunia bisa mencapai 60% lebih tinggi daripada yang diumumkan secara resmi. Media London tersebut mencapai kesimpulan ini setelah menghitung jumlah kematian yang terjadi pada bulan Maret hingga April 2020.
(wk/nidy)