Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengklaim kalau lembaganya akan bekerja dengan semua negara dan mitra guna mempercepat pengembangan serta produksi obat-obatan COVID-19.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 06 Mei 2020 - 11:09 WIB
WowKeren - Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkomitmen untuk memastikan obat dan vaksin virus corona (COVID-19) didistribusikan merata ke seluruh dunia. Menurut Dirjen WHO tersebut, ukuran keberhasilan bukan seberapa cepat obat dikembangkan tapi pada pembagian yang adil dan merata.
"Tidak seorang pun dari kita dapat menerima dunia di mana sebagian orang dilindungi sementara yang lain tidak. Semua orang harus dilindungi," kata Ghebreyesus dalam pernyataan resminya.
Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menggarisbawahi komitmen WHO untuk bekerja dengan semua negara dan mitra guna mempercepat pengembangan serta produksi obat-obatan. Ia pun akan memastikan bahwa obat COVID-19 dibagi secara merata tanpa terkecuali.
"Ini adalah kesempatan bagi dunia untuk bersama-sama menghadapi ancaman bersama. Tetapi juga untuk menempa masa depan yang sama, masa depan di mana semua orang menikmati hak atas standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai dan produk yang menghasilkan hak itu," kata Ghebreyesus dalam lanjutan keterangannya.
Sementara itu, WHO juga mengimbau pada seluruh masyarakat dunia untuk tetap berhati-hati terhadap virus ini hingga vaksinnya ditemukan. Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan mengklaim bahwa virus ini masih akan bertahan lama dan tak bisa berakhir dalam waktu dekat. "Jangan salah. Kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama," ujarnya pada bulan April lalu.
Hal tersebut lantaran sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini. "Sebagian besar negara masih dalam tahap awal dan beberapa yang terdampak awal pandemi mulai melihat kebangkitan dalam kasus-kasus," tuturnya.
Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menganjurkan agar negara-negara di seluruh dunia terus berinvestasi dalam meningkatkan sistem antisipasi serta penanganan masing-masing. Sebab WHO menilai sejauh ini hanya 76 persen negara di dunia yang memiliki sistem pengawasan untuk mendeteksi virus.
"Masih ada banyak celah di pertahanan dunia dan tidak ada satu pun negara yang memiliki segalanya," tuturnya menambahkan.
Saat ini, terdapat lebih dari 3,7 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia. Korban meninggal akibat virus tersebut telah melampaui angka 258 ribu jiwa, dengan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 1,242,347.
Pandemi corona sendiri telah memicu tidak hanya keadaan darurat kesehatan, tetapi juga kemunduran ekonomi global, dengan bisnis-bisnis yang berjuang mati-matian untuk tetap bertahan, jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan banyak korban lainnya menghadapi kelaparan.
(wk/luth)