Inggris diketahui telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi jumlah kematian akibat corona. Salah satunya menginjeksi plasma darah dari pasien corona yang sembuh (konvalesen).
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 06 Mei 2020 - 12:57 WIB
WowKeren - Angka kematian akibat virus corona (COVID-19) di Inggris kini dilaporkan berada pada posisi tertinggi kedua di dunia, dengan jumlah 32,313 jiwa. Tercatat, jumlah kasus virus corona di Inggris saat ini mencapai 194,990 pasien secara keseluruhan.
Data angka kematian baru itu dirilis oleh Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) dan badan kesehatan regional. Statistik baru itu belum dimasukkan dalam angka harian pemerintah pusat yang saat ini masih mencatat 29,427 kematian.
Jumlah korban meninggal akibat virus corona di Inggris saat ini lebih tinggi dari Italia. Negara yang dikepalai oleh Perdana Menteri Giuseppe Conte itu kini berada di posisi tiga dengan jumlah korban tewas akibat virus corona mencapai 29,315 orang. Sedangkan Spanyol menempati posisi keempat dengan jumlah korban meninggal mencapai 25,613 orang.
Sementara Amerika Serikat (AS) masih memuncaki daftar jumlah korban tewas tertinggi akibat COVID-19. Hingga berita ini ditulis, Amerika Serikat sudah mencatatkan lebih dari 1,2 juta kasus positif COVID-19 dengan jumlah pasien tewas melebihi 72 ribu.
Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mendesak agar tidak membanding-bandingkan data pemerintah dengan statistik internasional yang ada selama ini. "Ada berbagai cara menghitung angka kematian. Kami sekarang menerbitkan data yang mencakup semua kematian di semua pengaturan dan tidak semua negara melakukan hal ini," ucap Raab dalam jumpa pers di Downing Street.
Raab juga mendesak agar tidak membandingkan data statistik seputar corona dengan negara lain. Sebab, menurutnya setiap negara memiliki mekanisme berbeda dalam menghitung jumlah kasus dan kematian corona.
"Bisakah Anda memastikan bahwa semua negara mengukur hal ini dengan cara yang sama? Dan itu juga tergantung pada seberapa baik dan terus terangnya negara-negara dalam membuat data statistik mereka," lanjut Raab.
Di sisi lain, Inggris diketahui telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi jumlah kematian akibat corona. Salah satunya menginjeksi plasma darah dari pasien corona yang sembuh (konvalesen) kepada pasien corona yang parah. Metode penyembuhan dengan menginjeksi plasma itu, yang bertujuan membentuk antibodi melawan virus, dianggap berhasil menangani pasien pada kasus SARS selama 2002-2004.
Pemimpin Inggris, Ratu Elizabeth II, saat ini juga disebut kebingungan menghadapi lonjakan kasus corona di negaranya. Disebutkan bahwa pemimpin monarki tersebut sempat bertanya pada Perdana Menteri Selandia Baru, tentang cara menghadapi pandemi ini, mengingat negara tersebut diklaim sukses menanangi corona.
Dikutip dari Daily Mail, hal tersebut disampaikan secara langsung oleh Jacinda Ardern setelah dia berbicara dengan Ratu Elizabeth. "Yang Mulia benar-benar tertarik untuk mengetahui bagaimana kami melakukannya dan berbesar hati untuk mengetahui bahwa kami baik-baik saja," ujar Ardern.
Selandia Baru memang dinilai berhasil memenangkan "pertempuran" melawan wabah virus corona (COVID-19) selama satu bulan terakhir. Selandia Baru telah melaporkan hanya 1,124 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi, termasuk 19 kematian, dan menjadi salah satu penghitungan terendah di dunia. Tingkat transmisi lokal mencapai 0,4 persen.
(wk/luth)