Seorang Apoteker India Dilaporkan Tewas Setelah Minum Ramuan Obat Corona Hasil Racikan Sendiri
SerbaSerbi

Apoteker tersebut dilaporkan menguji ramuan obat yang mengandung nitric oksida dan sodium nitrat. Menurut kepolisian, apoteker itu mulai meramu obat tersebut setelah melakukan riset melalui internet.

WowKeren - Seorang apoteker di India dilaporkan tewas setelah keracunan akibat menenggak cairan kimia hasil racikannya sendiri. Usut punya usut, cairan kimia tersebut ia racik sebagai obat virus corona (COVID-19).

Dilansir dari CNN pada Rabu (13/5), apoteker bernama K Sivanesan (47) itu meninggal di rumahnya yang berada di bagian selatan kota Chennai. Insiden itu terjadi pada Sabtu pekan lalu. Sedangkan pemilik perusahaan tempatnya bekerja, Rajkumar, juga keracunan usai meminum ramuan tersebut namun nyawanya bisa diselamatkan.

Disebutkan bahwa sivanesan bekerja di sebuah pabrik jamu. Saat itu dia tengah menguji ramuan obat yang mengandung nitric oksida dan sodium nitrat. Menurut kepala Kepolisian Chennai, Ashok Kumar, Sivanesan membeli bahan-bahan kimia tersebut dari toko setempat. Dia mulai meramu obat tersebut setelah melakukan riset melalui internet.

Di sisi lain, hingga saat ini memang belum ada obat atau vaksin yang mampu menyembuhkan virus corona. Kendati demikian, banyak pihak yang berlomba-lomba untuk mencari penawar penyakit tersebut. Sejumlah negara juga telah mengizinkan penggunaan sejumlah obat panyakit lain seperti remdesivir dan avigan untuk pengobatan corona, meskipun belum terbukti benar-benar ampuh.


Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyatakan bahwa vaksin virus corona kemungkinan baru siap pada akhir tahun 2021 mendatang. Hal tersebut disampaikan oleh Dale Fisher selaku pejabat Jaringan Peringatan dan Respons Wabah Global WHO.

Kemungkinan ini dinilai sangat masuk akal, mengingat kebutuhan uji coba Fase 2 dan 3 dari tiap vaksin untuk menjamin keamanan dan kemanjurannya. Selain itu, perlu ada waktu bagi peningkatan produksi dan distribusi, serta pemberian vaksin. "Kami saat ini masih dalam target," tutur Fisher.

"Kami selalu berpikir bahwa sekitar bulan April, Mei, kami akan berada dalam studi tahap 1. Jadi ini berarti vaksin potensial telah ditemukan," ujarnya menambahkan. "Kami sekarang mencobanya pada individu, pada dasarnya untuk melihat apakah vaksin itu aman," imbuhnya.

Lebih lanjut, Dale Fisher menyebut uji coba ini akan memungkinkan pengumpulan data awal untuk menilai apakah vaksin potensial itu benar-benar berfungsi atau tidak sebelum uji coba yang lebih besar terkait keamanan dan kemanjurannya.

WHO juga mengimbau pada seluruh masyarakat dunia untuk tetap berhati-hati terhadap virus ini hingga vaksinnya ditemukan. Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan mengklaim bahwa virus ini masih akan bertahan lama dan tak bisa berakhir dalam waktu dekat. Hal tersebut lantaran sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait