Tiongkok dituding sedang melancarkan taktik diplomasi perdagangan terhadap Australia, setelah menguatnya desakan untuk menyelidiki asal-usul virus corona (COVID-19).
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 14 Mei 2020 - 10:56 WIB
WowKeren - Pemerintah Tiongkok dengan tegas membantah tudingan yang menyebut mereka melancarkan taktik diplomasi perdagangan terhadap Australia, setelah menguatnya desakan untuk menyelidiki asal-usul virus corona (COVID-19). Diketahui, dua produk unggulan Australia yaitu gandum dan daging sapi kena getahnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Tiongkok mengisyaratkan akan mengenakan tarif 80 persen untuk gandum Australia. Bukan hanya itu, negeri Tirai Bambu tersebut juga menangguhkan impor dari empat pemasok utama daging sapi Australia.
Menanggapi tudingan adanya permainan diplomasi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, mengatakan negaranya memberlakukan larangan karena pihak bea cukai menemukan produk Australia melanggar persyaratan karantina dan bea cukai yang disetujui bersama.
"Kami sudah memberi tahu pihak Australia tentang hal ini dan kami meminta pihak Australia untuk menyelidiki dan memperbaikinya," katanya dalam keterangan pers pekan ini.
Zhao mengatakan desakan Australia untuk menyelidiki asal-usul COVID-19 tidak terkait dengan larangan impor tersebut. "Itu dua hal yang berbeda," katanya. "Asal-usul virus membutuhkan penilaian spesialis dan ilmuwan."
Kendati demikian, duta besar Tiongkok untuk Australia, Cheng Jingye, beberapa pekan lalu memperingatkan agar negara lain tak mendesak penyelidikan muasal wabah corona. Cheng Jingye juga tak segan memberi ancaman boikot pada Australia jika permintaan penyelidikan COVID-19 diteruskan.
Duta besar tersebut dalam pernyataan resminya mengancam mengancam bahwa mereka dapat mendorong boikot yang memungkinkan tidak ada lagi warga Tiongkok bepergian dan belajar di Australia. Pemerintah pun dapat menekankan agar tidak membeli ekspor utama Australia, termasuk daging sapi dan anggur.
Ia juga mengatakan konsumen di Tiongkok bisa saja mempertimbangkan kembali mengapa mereka harus membeli produk dan jasa Australia sebagai reaksi terhadap desakan penyelidikan. "Jika mood-nya memburuk, rakyat Tiongkok akan berpikir mengapa kami harus datang ke suatu negara yang tidak bersahabat dengan Tiongkok," katanya pada akhir April lalu.
"Mungkin warga biasa di Tiongkok akan berkata, mengapa kami harus minum wine Australia, makan daging sapi Australia?" tambahnya lagi.
Diketahui pula bahwa dalam kurun waktu dua pekan sejak pernyataan Cheng Jingye tersebut, Tiongkok menyatakan akan mengenakan tarif sebesar 80 persen untuk gandum dari Australia. Selain itu, pasokan daging merah dari empat RPH di Australia kini dilarang untuk masuk ke Tiongkok.
Di sisi lain, kisruh antara kedua negara ini bermula saat Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, sebelumnya mendorong adanya penyelidikan menyeluruh atas asal-usul pandemi COVID-19, termasuk upaya awal penanganan yang dilakukan Tiongkok di kota Wuhan. Usulan ini mendapat dukungan bukan hanya dari kalangan pemerintah Australia seperti Perdana Menteri Scott Morrison dan Menteri Dalam Negeri Peter Dutton, tapi juga dari pihak oposisi.
Namun usulan Australia ini justru membuat pihak Tiongkok meradang. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang, menyebut usulan Australia untuk melakukan penyelidikan asal virus corona sama sekali tidak berdasar dan tidak menghargai negara mereka.
(wk/luth)