Menurut sang wapres, WHO bekerja sama dengan Tiongkok untuk memastikan Taiwan tidak dilibatkan dalam pertemuan apapun. Dia juga mengatakan, WHO bahkan enggan memberikan informasi soal corona ke Taiwan.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 15 Mei 2020 - 16:46 WIB
WowKeren - Wakil Presiden Taiwan, Chen Chien-jen, menyebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak profesional karena sampai saat ini WHO belum memperbolehkan negaranya menjadi anggota. Chen Chien-jen menilai WHO mengikuti agenda politik Tiongkok.
Menurut Chien-jen, WHO bekerja sama dengan Tiongkok untuk memastikan Taiwan tidak dilibatkan dalam pertemuan apapun. Dia juga mengatakan, WHO bahkan enggan memberikan informasi soal corona ke Taiwan.
"Sayangnya, karena alasan politik, 23 juta orang Taiwan menjadi anak yatim dalam sistem kesehatan global," katanya kepada wartawan di kantor kepresidenan di Taipei. "WHO terlalu memerhatikan politik dan melupakan profesionalisme dan netralitas mereka. Ini sangat disesalkan," tuturnya menambahkan.
WHO dan Tiongkok sendiri telah membantah keras tuduhan tersebut. Keduanya mengatakan Taiwan telah diberi semua bantuan yang diperlukan, tetapi hanya Tiongkok yang memiliki hak untuk sepenuhnya mewakilinya di WHO. Hal tersebut lantaran Taiwan memang belum menjadi bagian dari WHO karena larangan dari Tiongkok.
Tiongkok menganggap Taiwan bukan negara mandiri, namun bagian darinya. Oleh karena itu, menurut Tiongkok, Taiwan tidak memiliki legitimasi untuk bergabung dengan WHO. Tiongkok khawatir posisi Taiwan akan makin kuat jika diakui internasional sebagai negara yang mandiri.
Saat wabah virus corona meledak, Taiwan muncul sebagai salah satu negara yang berhasil bertahan mengendalikan virus terus. Hingga Rabu (14/5), Taiwan hanya memiliki 440 kasus dan 7 korban meninggal. Prestasi itu membuat banyak negara membujuk WHO untuk mengikutkan Taiwan, tak terkecuali Amerika Serikat (AS). Namun, Tiongkok menganggap semua dukungan itu beragenda politis untuk menyudutkan negeri Tirai Bambu.
Chen Chien-jen sendiri mengatakan bahwa WHO telah menempatkan politik di atas kesehatan. Namun dia mengatakan, WHO telah melakukan pekerjaan yang baik dan berkontribusi pada kesehatan dunia di masa lalu, rekornya tentang virus belum sebaik ini.
"Tentang radang paru-paru Wuhan, kami kebanyakan mengkritik mereka karena bertindak terlalu lambat," katanya merujuk pada kota Tiongkok, Wuhan tempat virus itu pertama kali muncul akhir tahun lalu sebelum menyebar ke seluruh dunia untuk menginfeksi 4,3 juta orang dan membunuh 295 ribu orang.
Chen Chien-jen adalah menteri kesehatan Taiwan selama krisis SARS 2002-2003. Dia mengatakan dunia perlu berhati-hati dengan jumlah virus Tiongkok, dan mendesak Beijing untuk lebih transparan. Meskipun, dia berharap Tiongkok baik dalam pertarungannya melawan virus.
"Di sini saya memberikan berkah kepada mereka dan berharap mereka dapat mengatasi pneumonia Wuhan sedini mungkin dan menghindari gelombang kedua," kata Chen Chien-jen.
Di Beijing, juru bicara kementerian luar negeri Zhao Lijian mengatakan dasar Taiwan untuk berpartisipasi dalam WHO dirusak oleh penolakan Partai Progresif Demokratik yang berkuasa untuk mengakui bahwa pulau itu adalah bagian dari Tiongkok.
"Tidak ada dasar hukum untuk "wilayah non-kedaulatan" untuk berpartisipasi sebagai pengamat," kata Zhao kala itu.
AS telah berulang kali berselisih dengan Tiongkok atas penolakannya untuk mengizinkan Taiwan akses penuh ke badan tersebut, membantu lebih lanjut memicu ketegangan antara Washington dan Beijing. Penghitungan 440 infeksi virus Taiwan dan tujuh kematian jauh lebih rendah daripada banyak negara tetangganya, berkat upaya pencegahan dini dan efektif, serta sistem kesehatan masyarakat yang efisien.
(wk/luth)