Dalam keterangannya baru-baru ini, Mike Pompeo menyebut bahwa Tiongkok semakin memperpanjang tindakan kontraproduktif yang dilakukan negeri Tirai Bambu itu selama pandemi virus corona berlangsung.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 16 Mei 2020 - 12:43 WIB
WowKeren - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, turut buka suara tentang klaim Badan Penyelidikan Federal Amerika Serikat (FBI) menuding bahwa Tiongkok mencoba mencuri riset tentang pengembangan vaksin virus corona (COVID-19) dari AS.
Dalam keterangannya baru-baru ini, Mike Pompeo menyebut bahwa aksi Tiongkok tersebut semakin memperpanjang tindakan kontraproduktif yang dilakukan negeri Tirai Bambu itu selama pandemi virus corona (COVID-19) berlangsung. "Tingkah laku Tiongkok di dunia siber merupakan perpanjangan dari tindakan kontraproduktif mereka selama pandemi COVID-19," kata Pompeo melalui pernyataan resminya pada Kamis (14/5) waktu setempat.
Menurut Pompeo, pada saat Amerika Serikat dan sekutu serta mitra mengoordinasikan respons gabungan dan transparan untuk menyelamatkan nyawa, Tiongkok justru terus membungkam para ilmuwan, jurnalis, dan warga negara. Mereka menyebarkan informasi sesat, yang memperburuk risiko krisis kesehatan ini.
Di sisi lain, sebelumnya FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS memang berencana mengeluarkan peringatan terkait peretasan yang dilakukan Tiongkok di tengah upaya pengembangan vakin virus corona. Disebutkan bahwa Tiongkok mengerahkan peretas yang menyasar informasi dan kekayaan intelektual terkait perawatan dan pengujian virus corona.
Menurut Direktur Keamanan Infrastruktur dan Keamanan Siber, Christopher Krebs, fokus para peretas dan mata-mata Tiongkok tersebut adalah vaksin corona yang dikembangkan oleh AS. "Tiongkok punya sejarah panjang dalam berperilaku buruk dalam dunia maya sejauh yang didokumentasikan," kata Krebs dalam wawancara.
Oleh karena itu, dia mengaku tidak terkejut mereka akan mengincar organisasi penting yang terlibat dalam respons penanganan COVID-19. "Kami dan organisasi yang kami kelola akan mempertahankan kepentingan kami secara agresif," lanjut Krebs.
Peringatan dari FBI ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menuding Tiongkok sudah sebuah informasi keliru tentang virus corona pada dunia. "Apa lagi yang baru dengan Tiongkok? Ceritakan kepada saya. Saya tidak senang dengan China. Kami memerhatikannya dengan sangat cermat," ujar Trump di Gedung Putih saat diminta memberikan tanggapan soal laporan FBI ini.
Sementara itu, Tiongkok sendiri sudah menyangkal keras klaim AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, langsung memberikan bantahan tegas. "Tiongkok menyuarakan ketidakpuasan yang amat sangat dalam dan menentang adanya penodaan ini," ujar Zhao kepada awak media di Beijing.
Bukan hanya itu, Zhao bahkan menuding AS yang pernah menggelar operasi pencurian siber di masa lalu. "Merujuk kepada masa lalu, justru AS lah yang sudah menggelar operasi pencurian siber terbesar yang terjadi di seluruh dunia," lanjutnya.
Zhao juga menekankan kalau negara mereka sudah mendapatkan hasil yang begitu signifikan dalam upaya mereka mencegah wabah virus corona. Dia mengklaim, justru Beijing yang terdepan dalam pengembangan vaksin COVID-19. Karena itu, seharusnya mereka yang takut jadi target Washington.
(wk/luth)