Puluhan WNI Terjebak di Jilin yang Disebut Jadi Episentrum Baru COVID-19 Tiongkok, KBRI Buka Suara
Dunia

Menyusul isolasi di Kota Shulan di provinsi Jilin, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Yaya Sutarya, mengatakan bahwa sedikitnya ada 33 WNI yang masih bertahan di sana.

WowKeren - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing meminta warga negara Indonesia (WNI) yang masih berada di Provinsi Jilin tetap tenang. Hal menyusul isolasi di Kota Shulan akibat 29 warga setempat dinyatakan positif terinfeksi virus corona (COVID-19).

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Yaya Sutarya, mengatakan bahwa sedikitnya ada 33 WNI yang masih bertahan di Jilin saat ini. "WNI kita yang masih bertahan di Jilin ada 33 orang. Jadi mereka tidak perlu cemas karena mereka tidak tinggal di kota itu," kata Yaya Sutarya, seperti dikutip dari Republika pada Senin (18/5).

Menurut Yaya Sutarya, para WNI tersebut juga terpantau dalam keadaan sehat dan tidak ada satu pun yang terinfeksi virus asal Wuhan itu. KBRI juga telah mencukupi kebutuhan logistik mereka, termasuk masker dan vitamin.

Yaya juga menuturkan kalau sejumlah instansi pendidikan telah sigap melakukan langkah antisipasi, sehingga para WNI yang berstatus pelajar dalam kondisi aman. Sampai saat ini pula, universitas dan sekolahan lain di wilayah timur laut Tiongkok itu belum ada yang buka kembali.

"Setiap kampus juga selalu memberikan imbauan mengenai keadaan salah satu kota di Jilin agar berhati-hati," ujar Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI tersebut menambahkan.


Di sisi lain, akibat munculnya klaster infeksi COVID-19 baru, Pemerintah Tiongkok mulai memberlakukan aturan penguncian (lockdown) di Kota Shulan yang terletak di Provinsi Jilin. Akibatnya, semua warga wajib tinggal di rumah. Siswa sekolah maupun mahasiswa juga akan kembali melakukan kegiatan belajar secara online.

Semua fasilitas umum, bioskop, perpustakaan ditutup sementara. Fasilitas kereta api, di dalam maupun ke luar kota akan disetop hingga akhir Mei ini. Bus diminta menunda layanan. Sedangkan taksi tak diizinkan meninggalkan kota.

Dikutip dari South China Morning Post, diketahui kasus pertama ditemukan pada 7 Mei saat seorang wanita 45 tahun didiagnosis dengan COVID-19. Padahal kota sudah mencatat nol kasus sejak 9 April.

Wanita tersebut diketahui bekerja pada sebuah binatu. Masih belum jelas bagaimana wanita itu bisa terinfeksi, sebab sejak 23 April ia tak meninggalkan provinsi itu dan tidak bertemu dengan siapapun yang pulang dari luar negeri.

Menyusul berita ini, Sekretaris Partai Komunis Komite Kota Shulan, Li Pengfei, dicopot dari jabatannya beberapa saat setelah lockdown. Wakil Wali Kota Jilin, Provinsi Jilin, Zhang Jinghui, ditunjuk menempati pos baru yang ditinggalkan Li tersebut. Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengirimkan satu tim ke Kota Shulan untuk menangani situasi tersebut.

Secara terpisah, Distrik Fengman, Kota Jilin, telah ditetapkan sebagai wilayah berisiko tinggi Covid-19 setelah mendapati tiga kasus baru sehingga pada Sabtu (16/5) jumlahnya menjadi 32 kasus. Sebanyak 938 orang yang diduga kontak dekat dengan kasus positif berhasil dilacak dan telah diobservasi secara medis pada Sabtu tengah malam.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait