Tiongkok Klaim AS Sebagai Pelanggar HAM Terbesar di Dunia, Seret Kasus George Floyd
Dunia

Respons Tiongkok ini muncul setelah Departemen Luar Negeri AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat Negeri Tirai Bambu yang dinilai terlibat dugaan pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur.

WowKeren - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying, mengatakan Amerika Serikat adalah 'pelanggar hak asasi manusia terbesar' di dunia. Hua Chunying juga menyebut bahwa tuduhan atas pelanggaran hak asasi manusia di Provinsi Xinjiang sebagai kebohongan terbesar abad ini. Ia bahkan menyeret kasus kematian George Floyd untuk menunjukkan bahwa AS adalah pelanggar HAM terbesar.

"Faktanya, Amerika Serikat adalah pelanggar hak asasi manusia terbesar di dunia, dan tuduhannya tentang masalah HAM di Xinjiang adalah kebohongan terbesar di abad ini," kata Hua dalam konferensi pers rutin di Beijing.

Dilansir dari CNN pada Senin (20/7), Hua membantah pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, yang mengatakan bahwa AS akan memberlakukan pembatasan visa pada karyawan tertentu dari perusahaan teknologi Tiongkok yang memberikan dukungan material kepada rezim yang terlibat dalam pelanggaran HAM di Xinjiang dan pelanggaran global.

"Pejabat AS harus merasa malu pada diri mereka sendiri dan media, serta warga AS harus merasa menyesal karena memiliki pejabat seperti itu yang penuh dengan kebohongan," tambahnya.

Hua mengatakan kinerja Tiongkok dalam menangani masalah HAM bergantung pada rakyat Tiongkok sendiri dan bukan bergantung pada politikus AS. Ia mengatakan sejak Republik Rakyat Tiongkok berdiri lebih dari 70 tahun lalu di bawah kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok. Negaranya telah mencetak prestasi luar biasa dalam mencari jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasionalnya sendiri.

Lebih lanjut Hua mengatakan selama empat dekade terakhir bahkan lebih, Tiongkok mengalami peningkatan 25 kali lipat pendapatan per kapita, menyelamatkan 850 juta orang dari kemiskinan, dan berkontribusi di lebih dari 70 persen dalam upaya pengentasan kemiskinan global.


Di saat yang sama, Tiongkok juga menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia tanpa menggunakan peperangan, kolonialisme, atau perbudakan, dan menjadi satu-satunya dari semua negara besar yang melakukannya. Hua mengklaim selama lebih dari satu dekade berturut-turut, Tiongkok menyatakan telah berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) global.

Berkenaan dengan situasi HAM di AS, Hua mengatakan selama lebih dari 240 tahun AS berdiri, negara itu bebas dari perang hanya selama 16 tahun. Sejak 2001, AS telah melakukan perang dan aksi militer di negara-negara seperti Irak, Libya, Suriah, dan Afghanistan yang menyebabkan lebih dari 800 ribu kematian dan puluhan juta warga sipil terpaksa mengungsi. Hua juga mengatakan bahwa etnis minoritas di AS, termasuk Afrika-Amerika, berada di situasi yang sulit.

Hua bahkan menyeret kasus kematian George Floyd yang akhirnya menyebabkan gelombang demonstrasi besar-besaran di AS selama beberapa waktu lalu. "George Floyd bukanlah satu-satunya orang yang meninggal karena 'tidak bisa bernapas', (dia meninggal) karena diskriminasi rasial sudah menyebar di AS," kata Hua.

"Saya ingin tahu bagaimana Pompeo menghadapi fakta-fakta sulit ini, (apakah dia) memiliki kepercayaan diri untuk berbincang dengan Tiongkok tentang HAM," tambahnya.

Di sisi lain, respons Tiongkok ini muncul setelah Departemen Luar Negeri AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat Tiongkok yang dinilai terlibat dugaan pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur.

Tak mau kalah, Tiongkok sendiri langsung merespons dan menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat AS karena mencampuri urusan dalam negerinya terkait etnis minoritas Muslim Uighur di Xinjiang itu. Tiongkok juga akan menjatuhkan sanksi bagi anggota Komisi Eksekutif-Kongres AS untuk Tiongkok yang merupakan lembaga pemantau penegakan HAM di Negeri Tirai Bambu.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait