Menu MPASI yang diberikan disarankan mengandung kebutuhan nutrisi yang tidak dapat dipenuhi lagi oleh ASI. Namun ternyata ada beberapa bahan makanan yang enggak dianjurkan untuk disertakan dalam menu MPASI buah hati kalian.
- Putri Stevania
- Selasa, 25 Agustus 2020 - 15:21 WIB
WowKeren - Pemberian makanan Pendamping ASI (MPASI) atau susu formula merupakan salah satu periode penting dalam proses tumbuh kembang anak. Penelitian menunjukkan bahwa pada masa transisi ini, banyak bayi mengalami gagal tumbuh yang disebabkan oleh kualitas MPASI yang kurang baik loh.
Selain itu, periode ini juga merupakan momen kritis buah hati kalian untuk belajar makan. Terlebih lagi, pemberian MPASI yang tepat dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan optimal si kecil. Menu MPASI yang diberikan disarankan mengandung kebutuhan nutrisi yang tidak dapat dipenuhi lagi oleh ASI, terutama jumlah energi, protein, zat besi, dan zinc.
Berikan MPASI yang bervariasi dan mencukupi sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak, serta mikronutrien, yaitu vitamin dan mineral. Namun ternyata ada beberapa bahan makanan yang enggak dianjurkan untuk disertakan dalam menu MPASI buah hati kalian. Apa saja? Berikut tim WowKeren rangkum 7 jenisnya. Yuk disimak!
(wk/putr)1. Susu Sapi Segar
Susu sapi adalah salah satu bahan yang tidak boleh ada dalam olahan MPASI kalian. Pada bayi usia di bawah satu tahun, ASI memang menjadi makanan terbaik bagi tumbuh kembang bayi. Selain karena kandungan nutrisinya, ASI juga merupakan satu-satunya makanan yang bisa dicerna dengan baik oleh sistem pencernaan bayi yang belum optimal.
Itulah mengapa bayi tidak dianjurkan untuk makan apa pun di luar ASI, sekalipun itu susu sapi. Pasalnya, susu sapi mengandung konsentrasi protein dan mineral yang tinggi. Bukannya menyehatkan, kandungan tersebut justru dapat membebani kerja ginjal bayi yang belum sepenuhnya matang.
2. Kacang
Para ibu diharapkan untuk menghindari pemberian kacang pada MPASI bayi. Meski sudah dihancurkan, butiran kacang bisa berpotensi membuat bayi tersedak. Selain itu, hindari juga memberikan kacang yang dilembutkan sehingga menimbulkan tekstur yang lengket. Tekstur demikian juga akan meningkatkan risiko tersedak pada anak.
Selain itu, untuk anak dengan riwayat keluarga alergi apapun, pemilihan kacang dalam menu MPASI sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter. Bisa saja mereka juga memiliki alergi pada kacang. Alih-alih bergizi, kacang dalam MPASI bisa menjadi racun untuk bayi kalian.
3. Makanan Bermerkuri Tinggi
Berbagai bahan makanan dari laut seperti ikan todak, ikan king mackerel dan ikan tuna segar merupakan makanan yang seringkali dikonsumsi, namun anda harus membatasi mengkonsumsi makanan tersebut karena kandungan merkuri yang lama-kelamaan akan menyebabkan kanker.
Penelitian memang menunjukkan bahwa makan ikan secara teratur bisa meningkatkan nilai IQ. Namun, saya pun harus memilih jenis ikan yang tepat. Ikan tersebut diketahui tinggi merkuri yang tentunya berbahaya untuk tumbuh kembang anak. Untuk itu, pilihlah ikan yang tinggi omega 3 namun juga tidak mengandung merkuri.
4. Putih Telur
Sama halnya dengan produk susu, kedelai, kacang-kacangan, dan ikan, telur pun berisiko memicu alergi pada bayi. Namun, kuning telur sebenarnya tidak mengandung protein yang berhubungan dengan reaksi alergi. Para peneliti terdahulu percaya bahwa memperkenalkan telur pada bayi usia dini akan meningkatkan risiko alergi.
Bayi yang baru mengonsumsi telur setelah umur 1 tahun malah lebih rentan mengalami alergi dibandingkan bayi berumur 4-6 bulan, yang mulai diperkenalkan pada telur. Ada beberapa gejala dari alergi telur untuk bayi yang dapat diwaspadai, seperti gatal-gatal, bengkak, eksim, kemerahan pada kulit, diare, mual, muntah, nyeri dan gatal di sekitar mulut.
5. Madu
Sebagian orang tua percaya bahwa memberikan madu pada bayi dapat membantu mencegah penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Padahal, memberikan madu jenis apapun untuk anak berusia di bawah 1 tahun justru sangat berisiko untuk kesehatannya.
Madu mengandung bakteri Clostridium botulinum. Pada anak usia 1 tahun ke atas, bakteri ini aman dikonsumsi. Namun bagi anak di bawah 12 bulan, bakteri pada madu ini dapat menyebabkan keracunan serius yang disebut botulisme. Ini terjadi karena anak usia 1 tahun ke bawah belum memiliki daya tahan tubuh dan sistem pencernaan yang kuat untuk melawan bakteri tersebut.
6. Produk Daging Olahan
Produk daging olahan seperti sosis, ham dan kornet sering dimasukkan dalam menu MPASI banyak ibuk. Meskipun termasuk sumber protein hewani, namun mengandung tinggi natrium, yang sebaiknya dihindari bayi. Makanan awetan ini bisa menjadi penyumbang tambahan garam yang tak terlihat.
Berbagai penelitian membuktikan, memberikan asupan garam pada bayi di bawah usia satu tahun bisa menyebabkannya berisiko terkena hipertensi, kegemukan dan penyakit jantung di usia lebih muda. Selain itu, bayi juga masih sangat sensitif terhadap garam. Memberikan makanan asin akan membuat tekanan darah bayi langsung melonjak tinggi.
7. Jus Buah
Kalian mungkin menganggap jus buah sebagai makanan yang sehat. Akan tetapi, bukan berarti jus buah dapat menggantikan buah segar yang seharusnya dimakan bayi secara langsung. Jus buah sebenarnya tidak memberikan manfaat yang berarti pada perkembangan bayi di tahun pertamanya.
Kebanyakan jus buah kemasan hanya mengandung gula dan kalori yang tinggi. Hal ini bisa menyebabkan berat badan bayi bertambah, merusak gigi, dan cenderung menyebabkan diare. Bahkan, pemberian jus buah untuk bayi dapat membuat kebutuhan protein dan seratnya tidak terpenuhi. Hal ini membuat bayi berisiko mengalami perubahan berat badan yang tidak sesuai.
Kalian juga bisa melihat artikel ini untuk mendapatkan beberapa tips saat memilih stroller agar bayi selalu aman dan nyaman. Selain itu, kalian juga bisa menyimak artikel ini untuk mengetahui tips aman mengajak bayi keluar rumah di era new normal.